Mahasiswa ITB Kembangkan Inovasi Minuman Elektrolit, Raih Penghargaan Internasional di Singapura
Oleh Rasya Ihza Ramadhan - Mahasiswa Teknik Fisika, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
SINGAPURA, itb.ac.id — Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan GEMBIRA, minuman elektrolit tinggi protein yang ringan dan menyegarkan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidrasi sekaligus pemulihan otot setelah berolahraga. Dikembangkan dengan memanfaatkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dan data preferensi konsumen, inovasi tersebut berhasil meraih Juara 3 kategori International Track dalam NUS FoodTech Challenge 2026 di National University of Singapore (NUS).
Inovasi ini menjawab keterbatasan produk minuman olahraga yang umumnya hanya berfokus pada penggantian cairan dan elektrolit, sementara minuman tinggi protein cenderung memiliki tekstur kental dan kurang nyaman dikonsumsi setelah aktivitas fisik.
GEMBIRA menawarkan alternatif bagi masyarakat aktif, khususnya pelari, melalui minuman jernih yang menggabungkan fungsi hidrasi dan asupan protein dalam satu produk.
Pengembangan tersebut menunjukkan potensi mahasiswa Indonesia dalam menghasilkan produk pangan fungsional yang berbasis riset, data, dan kebutuhan konsumen. Inovasi seperti GEMBIRA penting bagi publik karena dapat mendorong hadirnya produk pemulihan yang lebih praktis sekaligus memperkuat daya saing riset dan industri pangan lokal.
Tim KOL (Vegetable) terdiri atas Khirania Azzuhra Sentosa, Kamalia Rizki Syabani, dan Nadyah Rahmah Adifa dari Program Studi Teknik Pangan angkatan 2023, serta Arqila Surya Putra dari Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi angkatan 2023.
Mereka berhasil menempati posisi ketiga dari sepuluh finalis internasional setelah bersaing dengan 86 tim yang berasal dari tujuh negara. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Department of Food Science and Technology NUS untuk mendorong mahasiswa mengembangkan inovasi minuman tinggi protein yang berkelanjutan.
Pada tahun ini, kompetisi mengangkat tema “Leveraging AI and Consumer Data to Develop Personalised Flavours for Sustainable High-Protein Beverages Catering to Specific Taste Preferences”. Peserta ditantang memanfaatkan AI dan data konsumen untuk menciptakan minuman tinggi protein dengan rasa yang sesuai dengan preferensi kelompok konsumen tertentu.
Memadukan Elektrolit dan Protein dalam Minuman Jernih

Dalam kompetisi tersebut, tim menghadirkan GEMBIRA, akronim dari Great Electrolyte Meets Better Innovative Recovery Aid. Produk ini merupakan minuman elektrolit tinggi protein berjenis clear beverage dengan perpaduan rasa pomelo dan aroma cocopandan.
GEMBIRA dirancang sebagai minuman pemulihan setelah berolahraga. Selain membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang, produk tersebut menyediakan asupan protein untuk mendukung proses pemulihan otot dengan sensasi yang lebih ringan dan menyegarkan.
Gagasan pengembangan GEMBIRA berawal dari permasalahan yang dihadapi masyarakat aktif, khususnya pelari. Berdasarkan survei pasar dan perbandingan terhadap produk yang telah tersedia, tim menemukan bahwa sebagian besar minuman olahraga hanya berfungsi menggantikan cairan dan elektrolit.
Di sisi lain, minuman tinggi protein umumnya memiliki karakter kental, creamy, dan kurang nyaman dikonsumsi setelah berolahraga. Kondisi tersebut membuat kebutuhan hidrasi dan pemulihan otot belum banyak dipenuhi secara bersamaan melalui satu produk.
Mengembangkan Produk Berbasis Data Konsumen
Dalam proses pengembangan GEMBIRA, AI digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk menyusun hipotesis produk, merancang survei konsumen, menganalisis hasil survei, serta menentukan formulasi yang dinilai paling sesuai dengan preferensi konsumen.
“Awalnya kami memiliki hipotesis untuk mengembangkan minuman dengan profil rasa cocopandan. Namun, setelah melakukan market research dan memvalidasi preferensi konsumen, kami menemukan bahwa konsumen lebih tertarik pada karakter rasa yang lebih segar dan fruity. Karena itu, kami menggeser konsep menjadi dominasi rasa pomelo dengan cocopandan sebagai supporting note,” ujar Khirania.
Selain menggunakan pendekatan berbasis data, tim menerapkan teknologi clear whey protein untuk menghasilkan minuman tinggi protein yang tetap jernih. Proses produksinya dirancang dengan metode High Temperature Short Time (HTST) pasteurization dan aseptic filling agar produk tetap aman serta memiliki umur simpan yang lebih panjang.
Kombinasi teknologi tersebut memungkinkan GEMBIRA mempertahankan karakter minuman yang ringan dan menyegarkan tanpa menghilangkan manfaat protein dan elektrolit.
“Kami berharap GEMBIRA tidak hanya menjadi konsep yang berhasil memenangkan kompetisi, tetapi juga membuktikan bahwa produk pangan fungsional lokal dapat dikembangkan secara ilmiah, berbasis data, dan tetap relevan dengan selera masyarakat Indonesia,” ujar Kamalia.
Memperluas Pengetahuan dan Jejaring Internasional

Setelah mengikuti tahap final kompetisi, tim diundang ke Singapura untuk mengikuti Post-Finals Programme pada 13–17 Juli 2026 dengan dukungan penuh dari penyelenggara.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para anggota tim berkesempatan mengunjungi laboratorium, berdiskusi dengan akademisi dan praktisi teknologi pangan, serta memperluas jejaring bersama finalis dari berbagai negara.
Bagi tim, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa inovasi pangan tidak hanya bergantung pada kreativitas, tetapi juga pada kemampuan memahami kebutuhan konsumen melalui riset dan data. Komunikasi, pembagian peran, serta kemauan untuk terus menguji dan memvalidasi ide juga menjadi bagian penting dalam proses pengembangan produk.
“Jangan takut untuk mencoba. Ide yang baik akan terus berkembang ketika terbuka terhadap masukan dan divalidasi dengan data. Hal yang terpenting adalah berani memulai dan menikmati setiap prosesnya,” ujar Khirania.

.jpg)

.jpg)


.jpg)

