Dany Amrul Ichdan dan Veranita Yosephine Motivasi Mahasiswa Baru ITB 2026 Menjadi Pemimpin Adaptif dan Berdampak

Oleh Merryta Kusumawati - Mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


BANDUNG, itb.ac.id - Keberanian menghadapi tantangan, kemampuan beradaptasi, integritas, dan komitmen memberi manfaat bagi masyarakat merupakan fondasi penting dalam kepemimpinan. Pesan tersebut disampaikan Dr. Dany Amrul Ichdan, S.E., M.Sc. dan Veranita Yosephine dalam sesi Inspirasi Kepemimpinan pada rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru Institut Teknologi Bandung (PMB ITB) Tahun Akademik 2026/2027, Rabu (5/8/2026).

Dr. Dany Amrul Ichdan, Wakil Direktur Utama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, dan Veranita Yosephine, alumni Teknik Industri ITB angkatan 1996 sekaligus Direktur Enterprise and Business Service PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., membagikan pengalaman pendidikan, karier, dan kepemimpinan kepada mahasiswa baru. Keduanya mendorong mahasiswa memanfaatkan masa studi di ITB untuk mengembangkan kompetensi, membangun karakter dan jejaring, serta meningkatkan kepedulian terhadap persoalan bangsa.

Kepemimpinan Distinctive, Adaptive, dan Inclusive (DAI) untuk Menciptakan Nilai dan Dampak

Dr. Dany Amrul Ichdan mengajak mahasiswa baru untuk tidak rendah diri terhadap latar belakang maupun keterbatasan yang dimiliki. Menurutnya, mahasiswa ITB perlu membangun nilai pembeda agar mampu berkembang di tengah lingkungan yang kompetitif. Ia merumuskan konsep kepemimpinan “DAI”, yaitu distinctive, adaptive, dan inclusive.

Distinctive berarti berani tampil berbeda dan menciptakan nilai tambah. Tidak hanya berprestasi akademik dan lulus tepat waktu, tetapi juga memahami perkembangan zaman, mengenali kebutuhan masyarakat, serta menawarkan solusi relevan.

Adaptive merujuk pada kemampuan merespons perubahan tanpa kehilangan arah. “Adaptif berarti cepat melihat perubahan dan siap memberikan nilai tambah, tanpa kehilangan blueprint dan roadmap yang telah kita miliki,” katanya.

Sementara itu, inclusive menekankan pentingnya kerja sama, jejaring berbasis nilai, dan kolaborasi lintas keahlian. Ia mendorong mahasiswa membentuk kelompok belajar, membangun jejaring, serta memperoleh pengalaman nyata melalui magang yang melibatkan mereka dalam proses bisnis dan persoalan industri.

Ia mengajak mahasiswa membangun power of belief, commitment, dan power of legacy. “Marilah kita wakafkan diri dan hidup kita untuk memuliakan Indonesia melalui karya-karya besar,” katanya.

Menempa Ketangguhan, Integritas, dan Dampak

Sementara itu, Veranita Yosephine membagikan pengalamannya sebagai alumni, pemimpin perusahaan, sekaligus orang tua mahasiswa baru ITB. Ia mengenang masa ketika pertama kali memasuki ITB sebagai mahasiswa Teknik Industri pada 1996.

Menurutnya, berbagai tantangan selama kuliah, seperti tugas, ujian, organisasi, kompetisi, magang, dan proyek kelompok, merupakan proses penting dalam membentuk rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, serta ketangguhan.

Intelligence can get you to the top, but character will make you last there,” ujarnya.

Ia menyebut pengalaman menghadapi kesulitan sebagai “battle scars” yang memperkuat karakter. Hal tersebut dirasakannya ketika memimpin Indonesia AirAsia saat pandemi Covid-19, ketika operasional perusahaan terhenti dan kondisi keuangan memburuk. Pengalaman menghadapi tekanan selama kuliah menjadi salah satu modal untuk mengambil keputusan dan memimpin perusahaan melewati krisis.

Embrace the struggle. Jangan lari dari tantangan, jangan menyalahkan keadaan. Hadapi dan pelajari prosesnya,” katanya.

Ia pun mendorong mahasiswa memanfaatkan masa kuliah melalui organisasi, kompetisi, penelitian, pengabdian, dan interaksi dengan masyarakat.

Menurutnya, nama besar ITB dapat membuka banyak peluang, tetapi sekaligus membawa tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan dan menggunakan ilmu dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Curiosity mendorong kita melihat kemungkinan yang sebelumnya belum ada. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan disiplin dan integritas,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kesempatan belajar di ITB merupakan privilese yang perlu dimanfaatkan untuk memberikan dampak. Pengalaman bertemu anak-anak di daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan gizi, pendidikan, listrik, dan internet menunjukkan bahwa kesempatan tersebut belum dapat dirasakan semua orang.

Your talents are God-given, and your opportunities are a privilege. How you use them is your responsibility,” tuturnya.

Ia mengajak mahasiswa agar tidak berhenti pada pencapaian pribadi.

“Tiga puluh tahun yang lalu, saya disambut dengan tulisan ‘Selamat datang putra-putri terbaik bangsa’. Namun, menjadi yang terbaik tidak cukup. Hal terpenting adalah menggunakan kemampuan terbaik kita untuk membawa dampak positif bagi orang lain,” katanya.

#alumni itb #pmb 2026