PMB ITB 2026: Yorga Permana Ajak Mahasiswa Terus Bertumbuh di Tengah Perubahan Teknologi

Oleh Chysara Rabani - Mahasiswa Teknik Pertambangan, 2022

Editor Muhammad Efriza Pandia

BANDUNG, itb.ac.id — Perkembangan kecerdasan artifisial, transformasi digital, dan transisi energi terus mengubah dunia kerja. Menghadapi perubahan tersebut, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai kemampuan teknis, tetapi juga perlu terus belajar, beradaptasi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Muhammad Yorga Permana, S.T., M.Sc., Ph.D., dalam orasi bertajuk “Teknologi Berganti, Manusia Harus Terus Bertumbuh” pada Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Semester I Tahun Akademik 2026/2027 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB, Rabu (5/8/2026).

Muhammad Yorga Permana, yang juga menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Pengembangan Prestasi Direktorat Kemahasiswaan ITB, mengajak mahasiswa baru memandang perkembangan teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk terus berkembang dan menciptakan inovasi.

Ia menggambarkan bagaimana teknologi telah mengubah dunia kerja dalam dua dekade terakhir. Sejumlah pekerjaan, seperti penjaga warung telekomunikasi dan warung internet, semakin jarang ditemukan. Sebaliknya, muncul profesi baru, seperti pengemudi ojek daring, pembuat konten, AI trainer, prompt engineer, dan sustainability specialist.

“Kita tidak tahu pekerjaan apa lagi yang akan diciptakan oleh perkembangan teknologi, transisi energi, maupun berbagai inovasi lain yang saat ini sedang berkembang,” ujarnya.


Menurutnya, perubahan tersebut menuntut mahasiswa memiliki kemampuan untuk terus mempelajari hal baru agar tetap relevan. Gagasan itu didasarkan pada perjalanan risetnya sejak menjadi mahasiswa hingga menyelesaikan studi doktoral di London School of Economics.

Selama lebih dari satu dekade, Yorga meneliti hubungan antara inovasi, teknologi, ketimpangan ekonomi, dan dunia kerja. Salah satu hasil penelitiannya menunjukkan bahwa inovasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berpotensi memperbesar ketimpangan apabila manfaatnya tidak dirsakan secara merata.

Melalui riset mengenai pengemudi ojek daring, ia juga menemukan bahwa platform digital mampu membuka peluang kerja baru. Namun, teknologi sekaligus menghadirkan tantangan ketika algoritma semakin memengaruhi cara manusia bekerja.

Menurutnya, teknologi harus digunakan untuk memperkuat martabat dan kesejahteraan manusia, bukan menambah kerentanan pekerja.

“Inovasi harus berpihak kepada mereka yang lemah, sehingga manfaat kemajuan teknologi dapat dirasakan oleh semua orang. No one should be left behind,” tuturnya.

Untuk menghadapi masa depan, Yorga menekankan empat kompetensi yang perlu dikembangkan mahasiswa, yakni learning agility atau kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi; kolaborasi lintas disiplin; kreativitas dalam menghadirkan gagasan baru; serta grit, yaitu ketangguhan dan kegigihan menghadapi tantangan.



Kompetensi tersebut, katanya, tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui organisasi kemahasiswaan, unit kegiatan mahasiswa, kompetisi, kewirausahaan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Beliau mengingatkan bahwa kesempatan menempuh pendidikan di ITB merupakan privilese yang disertai tanggung jawab. Mahasiswa diharapkan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, serta menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

“Teknologi akan terus berubah. Dunia kerja akan terus berubah. Tetapi, ada satu hal yang tidak akan berubah, yaitu kemampuan manusia untuk bangkit setelah gagal, untuk terus belajar, untuk berkolaborasi, dan untuk terus bertumbuh,” pungkasnya.

Reporter: Chysara Rabani (Teknik Pertambangan, 2022)

#pmb #pmb itb #penerimaan mahasiswa baru #orasi #itb berdampak