Kembangkan Minuman Protein Murah, Mahasiswa ITB Raih Prestasi Internasional di Singapura

Oleh Rasya Ihza Ramadhan - Mahasiswa Teknik Fisika, 2023

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Tim “3 Chefs & that 1 Technician Guy” meraih Juara 2 kategori International Track dalam NUS FoodTech Challenge 2026 di National University of Singapore, Singapura, Selasa (14/7/2026). (Dok. Tim “3 Chefs & that 1 Technician Guy”)

SINGAPURA, itb.ac.id — Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan Pronic+, minuman elektrolit tinggi protein yang ringan, menyegarkan, dan dirancang agar dapat dipasarkan dengan harga terjangkau. Inovasi berbasis kecerdasan buatan tersebut mengantarkan mereka meraih Juara 2 kategori International Track dalam NUS FoodTech Challenge 2026 di National University of Singapore (NUS), Singapura, Selasa (14/7/2026).

Pronic+ dikembangkan untuk menjawab persoalan produk tinggi protein yang umumnya bertekstur kental, terasa berat, dan dijual dengan harga relatif mahal. Dengan kandungan 15 gram whey protein isolate (WPI) dalam kemasan siap minum berukuran 350 mL, produk ini menyasar masyarakat Asia Pasifik, termasuk Indonesia, yang membutuhkan pilihan asupan protein yang praktis, mudah dikonsumsi, dan lebih terjangkau.

Tim menargetkan Pronic+ dapat dipasarkan dengan harga sekitar Rp15.000 per kemasan. Apabila dapat dikembangkan dalam skala industri, inovasi tersebut diharapkan membantu lebih banyak masyarakat memenuhi kebutuhan protein harian sekaligus menunjukkan bahwa teknologi pangan dan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menghasilkan produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen. Upaya ini penting karena akses terhadap pangan bernutrisi tidak hanya ditentukan oleh kandungannya, tetapi juga rasa, harga, dan kemudahan memperoleh produk.

Keempat mahasiswa tersebut tergabung dalam tim “3 Chefs & that 1 Technician Guy”, yang terdiri atas Amar Arief Raihan, Juan Moratua Sinaga, dan Muthya Zidna Tadzkira dari Program Studi Teknik Pangan angkatan 2023, serta Ganesha Rahman Liswantoro dari Program Studi Teknik Fisika angkatan 2023.

Dalam kompetisi yang diselenggarakan Department of Food Science and Technology NUS tersebut, mereka bersaing dengan 86 tim dari tujuh negara, termasuk Tiongkok, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, dan Vietnam. Tim ITB berhasil masuk dalam jajaran 10 finalis sebelum meraih posisi kedua pada babak final.

NUS FoodTech Challenge 2026 mengangkat tema “Leveraging AI and Consumer Data to Develop Personalised Flavours for Sustainable High-Protein Beverages Catering to Specific Taste Preferences”. Para peserta ditantang memanfaatkan kecerdasan buatan dan data konsumen untuk mengembangkan minuman tinggi protein yang berkelanjutan serta sesuai dengan preferensi rasa kelompok konsumen tertentu.

Ringan seperti Air Mineral, Mengandung 15 Gram Protein

Berbeda dengan minuman protein pada umumnya, Pronic+ dirancang memiliki sensasi ringan dan menyegarkan seperti air mineral. Produk tersebut mengombinasikan fungsi minuman elektrolit dengan kandungan protein dalam satu kemasan siap minum.

Inovasi tim tidak berhenti pada formulasi produk. Mereka juga membangun sistem riset konsumen berbasis kecerdasan buatan untuk menjawab tingginya biaya dan lamanya waktu yang diperlukan dalam riset pasar konvensional.

“Kami menggunakan Python untuk k-means clustering dan BERTopic guna memetakan segmen konsumen dari data survei. Dari wawasan tersebut, kami membangun synthetic consumer agents dalam format JSON yang divalidasi dengan responden asli. Agen sintetis ini kami gunakan untuk menguji preferensi rasa hingga sensitivitas harga dengan jauh lebih cepat dan murah,” ujar Juan.

Tim memaparkan inovasi Pronic+ dalam babak final NUS FoodTech Challenge 2026 di National University of Singapore, Singapura, Selasa (14/7/2026). (Dok. Tim “3 Chefs & that 1 Technician Guy”)

Dalam pengembangan konsep visual dan merek, tim menyesuaikan Pronic+ dengan konteks kompetisi yang melibatkan perusahaan makanan dan minuman asal Tiongkok. Pronic+ diposisikan sebagai lini produk yang dapat memperluas citra perusahaan dari produsen mi instan dan minuman penyegar ke segmen minuman kesehatan dan olahraga.

Identitas visualnya tetap mempertahankan nuansa oriental khas perusahaan makanan dan minuman tersebut, tetapi dipadukan dengan kesan modern dan aktif agar relevan dengan konsumen muda di kawasan Asia Pasifik.

Dari sisi manufaktur, formulasi Pronic+ menggunakan desain dual-line processing. Proses hidrasi WPI dan pengasaman dilakukan secara terpisah untuk mencegah pengendapan. Produk kemudian diproses menggunakan metode high temperature short time (HTST) dan pengemasan aseptik pada suhu ruang untuk menjaga kandungan nutrisi serta kejernihan minuman.

Dari Kompetisi Menuju Skala Industri

Gagasan Pronic+ berangkat dari perhatian tim terhadap masyarakat yang masih kesulitan mencukupi kebutuhan protein harian. Menurut mereka, berbagai produk tinggi protein yang tersedia belum selalu mudah dijangkau karena harganya relatif mahal.

Dengan target harga sekitar Rp15.000, Pronic+ diharapkan menjadi alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan dengan produk sejenis di Singapura yang dijual sekitar 4–5 dolar.

“Harapannya, inovasi ini benar-benar bisa diadaptasi ke skala industri. Masih banyak masyarakat yang kesulitan mencukupi kebutuhan protein harian. Jika ada produk yang enak, terjangkau, dan mudah didapat, hal itu bisa mengubah kebiasaan konsumsi secara signifikan,” kata Muthya.

Tim mengikuti Post-Finals Programme dalam rangkaian NUS FoodTech Challenge 2026 di National University of Singapore, Singapura, Kamis (16/7/2026). (Dok. Tim “3 Chefs & that 1 Technician Guy”)

Di balik pencapaian tersebut, tim menyadari bahwa keberhasilan mereka tidak hanya ditentukan oleh ide dan teknologi. Perbedaan bidang keilmuan justru memungkinkan setiap anggota saling melengkapi, mulai dari formulasi pangan, pengolahan data, pemahaman konsumen, hingga pengembangan teknis produk.

“Kunci keberhasilan itu ada pada tim. Tim yang baik adalah tim yang bisa saling melengkapi, kritis satu sama lain, tetapi tetap bisa menikmati prosesnya bersama,” ujar Juan.

Keberhasilan tim “3 Chefs & that 1 Technician Guy” menunjukkan bahwa inovasi pangan masa depan tidak hanya bergantung pada formulasi produk. Kemampuan memahami konsumen, memanfaatkan teknologi secara tepat, serta mengubah persoalan masyarakat menjadi solusi yang terjangkau juga menjadi bagian penting dalam menghadirkan produk yang bermanfaat.

#itb berdampak #mahasiswa itb #prestasi mahasiswa #prestasi internasional #pronic plus #nus foodtech challenge 2026 #national university of singapore #inovasi pangan #teknologi pangan #kecerdasan buatan #minuman tinggi protein #protein terjangkau #pangan berkelanjutan #riset konsumen #inovasi mahasiswa #sdg 2 #zero hunger #sdg 3 #good health and well being #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 12 #responsible consumption and production