Simon Admiraal : Sosok Dibalik Berdirinya Pendidikan Seni di ITB
Oleh M. Armando Siahaan
Editor M. Armando Siahaan
BANDUNG, itb.ac.id - Seni adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang tentu memiliki ketertarikan pada bidang seni, entah itu seni rupa, musik, tari, drama, atau seni lainnya. Seni mampu memberikan warna berbeda bagi kehidupan manusia melalui sisi yang humanis dan filosofis. Hal ini telah disadari oleh Simon Admiraal, seorang pegiat seni asal Belanda, sejak 70 tahun silam. Kecintaannya terhadap dunia seni rupa mendorongnya untuk ikut melestraikan seni rupa melalui pendidikan formal.
Perjalanan Hidup Simon Admiraal
Ketika terjadi perang dunia kedua, Simon dipanggil untuk melaksanakan layanan militer dengan pangkat kopral. Karena kondisi fisiknya yang lemah pasca menjalani operasi hernia, Simon diberikan tugas sebagai tukang pos untuk mengantarkan surat dari dan kepada unit-unit tentara. Semasa perang dunia berkecamuk, Simon pernah ditahan oleh tentara Jepang di camp Jepang di Cimahi. Setelah Jepang menyatakan menyerah kepada tentara sekutu, Simon pun dibebaskan. Beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, Simon dipanggil kembali ke Belanda. Simon menghabiskan sisa hidupnya di Belanda dan wafat pada bulan April 1992.
Setelah Simon kembali ke Belanda, Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar mengalami beberapa kali proses transisi kepemimpinan dan kemudian berubah menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Untuk mengenang jasanya, nama Simon diabadikan dalam pameran peringatan hari jadi FSRD ke-70 yang bertajuk Cara Lain Menuturkan : Simon Admiraal dan Kisah Mazhab Bandung. Pameran ini akan berlangsung pada (16-07/08-10/17). Untuk itu, para civitas akademika ITB diundang ke Galeri Soemardja untuk turut menyaksikan sejarah pendidikan seni di ITB melalui pameran seni. 
.jpg)

.jpg)


