Orasi Ilmiah Prof. Tutun Juhana Bahas Orkestrasi Senyap di Balik Peradaban Digital

Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id - Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., IPU, Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB), menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Orkestrasi Senyap Penopang Peradaban Digital” di Aula Barat ITB, Sabtu (11/7/2026). Orasi ini membahas peran rekayasa kinerja jaringan telekomunikasi sebagai fondasi utama berbagai aktivitas digital, mulai dari pendidikan, kesehatan, industri, pemerintahan, riset, hiburan, hingga kecerdasan buatan. Prof. Tutun menegaskan bahwa keberadaan jaringan sering tidak disadari ketika bekerja dengan baik, tetapi dampaknya langsung terasa saat terjadi gangguan.

“Di balik transformasi digital yang membuat hidup kita lebih nyaman, terdapat fondasi yang bekerja nyaris tanpa terlihat, yaitu jaringan yang berkinerja sesuai harapan,” ujarnya.

Telekomunikasi sebagai Upaya Menaklukkan Jarak

Prof. Tutun menjelaskan bahwa kebutuhan manusia untuk tetap terhubung mendorong lahirnya teknologi telekomunikasi. Ia mencontohkan film "Cast Away", ketika tokohnya menciptakan “Wilson” sebagai teman berbicara saat terdampar sendirian.

Perjalanan telekomunikasi berkembang dari penggunaan asap, kentongan, merpati, dan surat menuju telegraf, telepon, internet, VoIP, serta jaringan seluler. Perkembangan tersebut membuat komunikasi semakin cepat, andal, dan mampu menjangkau lebih banyak orang. Kini, teknologi 5G dan perkembangan menuju 6G tidak hanya mendukung komunikasi suara, data, dan video, tetapi juga menopang AI, Internet of Things, industri, serta layanan publik.

“Jaringan telah berevolusi dari media komunikasi menjadi fondasi kehidupan digital modern,” katanya.

Menuju Jaringan Cerdas dan Berorientasi Pengguna

Prof. Tutun menjelaskan bahwa rekayasa kinerja jaringan bertujuan menjaga keseimbangan antara beban trafik, mutu layanan, dan sumber daya jaringan. Perencanaan jaringan harus mempertimbangkan pola trafik masa lalu, kondisi saat ini, serta kebutuhan masa depan.

“Seorang network engineer tidak cukup hanya memantau jaringan. Ia harus menganalisis, merencanakan, dan mengoptimasi agar layanan tetap cepat, stabil, andal, dan siap melayani,” ujarnya.

Perkembangan SDN, NFV, cloud native, 5G, dan 6G membuat jaringan semakin fleksibel sekaligus kompleks. Karena itu, pengelolaan jaringan memanfaatkan telemetri, analitik, observability, network slicing, dan AI untuk mendeteksi anomali, memprediksi gangguan, serta melakukan optimasi secara otomatis.

“Operasi jaringan bergeser dari reaktif menjadi prediktif,” katanya.

AI juga mengubah peran insinyur jaringan menjadi perancang kebijakan dan pengawas sistem. Namun, keputusan tetap berada pada manusia.

“Keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. AI memperkuat rekayasa jaringan, bukan menggantikan engineering judgment,” katanya.

Ke depan, jaringan 6G diharapkan mampu memahami konteks, beradaptasi dengan kebutuhan layanan, serta memperluas konektivitas melalui jaringan darat, satelit, dan platform udara.

“Intinya, jaringan masa depan harus cepat, cerdas, berkelanjutan, dan terpercaya sebagai fondasi peradaban digital berikutnya,” ujarnya.

Telekomunikasi sebagai Kapabilitas Nasional

Prof. Tutun menegaskan bahwa jaringan telekomunikasi berperan strategis dalam menghubungkan wilayah Indonesia, mulai dari kota besar hingga daerah terpencil. Tantangannya tidak hanya menghadirkan sinyal, tetapi juga memastikan layanan digital yang cepat, stabil, andal, dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

“Telekomunikasi harus menjadi kapabilitas nasional, bukan hanya infrastruktur,” tuturnya.

Untuk itu, Indonesia perlu memperkuat standar pengukuran, optimasi jaringan, otomatisasi berbasis AI, tata kelola, pembiayaan, serta pengembangan talenta.

“Menjaga digital Indonesia berarti memastikan jaringan bekerja untuk seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Menurutnya, jaringan harus mampu menopang inovasi, pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pemerataan kesempatan.

“Rekayasa kinerja jaringan bekerja secara senyap agar setiap koneksi tetap hidup, cerdas, andal, dan terpercaya untuk membangun peradaban digital manusia,” ujarnya.

Profil Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana

Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., IPU, lahir di Sumedang pada 12 Februari 1969. Beliau merupakan Guru Besar STEI ITB dengan bidang keahlian Teknik Telekomunikasi. Prof. Tutun menempuh pendidikan Sarjana Teknik Elektro di ITB dan lulus pada 1995. Ia kemudian meraih gelar Magister Teknik Elektro dari ITB pada 1999 serta gelar Doktor Teknik Elektro dan Informatika dari ITB pada 2011. Ia juga menyelesaikan Program Profesi Insinyur pada 2020.

Dalam perjalanan kariernya di ITB, Prof. Tutun pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Sarjana Teknik Telekomunikasi pada 2018 sampai 2020. Ia kemudian menjabat sebagai Dekan STEI ITB sejak 2020. Jabatan akademik Guru Besar diperolehnya pada 1 Juni 2025. Kegiatan penelitian Prof. Tutun mencakup berbagai bidang telekomunikasi dan jaringan. Beberapa penelitian terbarunya membahas strategi forwarding pada Named Data Networking menggunakan double Q-learning, permodelan kanal komunikasi kendaraan berkecepatan tinggi, serta kerangka adaptif berbasis AI untuk Social Internet of Vehicles. Ia juga melakukan penelitian terkait deteksi perangkat lunak berbahaya menggunakan ekstraksi fitur berbasis citra dan pembelajaran multimodal, integrasi chatbot dan Internet of Things untuk pengenalan emosi, wearable LoRa untuk operasi pencarian dan penyelamatan, sistem pemantauan bencana, serta pengembangan perangkat komunikasi portabel untuk situasi darurat.

Selain aktif melakukan penelitian, Prof. Tutun telah menghasilkan puluhan publikasi pada jurnal dan konferensi nasional maupun internasional. Topik publikasinya meliputi komunikasi kendaraan, jaringan seluler, perencanaan jaringan, kecerdasan buatan, Internet of Things, sistem tanggap bencana, jaringan LoRa, pemantauan kesehatan, antena, serta keamanan jaringan. Atas kontribusinya, Prof. Tutun menerima sejumlah penghargaan, antara lain Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden Republik Indonesia pada 2013, Satyalancana Karya Satya 20 Tahun pada 2019, Penghargaan 25 Tahun Pengabdian dari ITB pada 2022, serta Ganesa Wira Adiutama dari Rektor ITB pada 2025. Prof. Tutun juga memiliki Sertifikat Kompetensi Insinyur Profesional Utama dari Persatuan Insinyur Indonesia. Selain itu, ia memiliki pengalaman sebagai auditor sistem manajemen mutu, asesor Badan Kejuruan Organisasi Persatuan Insinyur Indonesia, asesor jabatan akademik dosen, serta asesor Sistem Penjaminan Mutu Internal.

Selengkapnya dapat diakses di ITB Press.

#itb #orasi ilmiah guru besar #tutun juhana #stei itb #peradaban digital #teknik telekomunikasi #jaringan telekomunikasi #transformasi digital #rekayasa kinerja jaringan #jaringan cerdas #kecerdasan buatan #artificial intelligence #internet of things #teknologi 5g #teknologi 6g #telekomunikasi indonesia #konektivitas digital #infrastruktur digital #pemerataan akses digital #kapabilitas nasional #keamanan jaringan #teknologi berkelanjutan #sdg 4 #quality education #sdg 8 #decent work and economic growth #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 10 #reduced inequalities #sdg 11 #sustainable cities and communities #sdg 16 #peace justice and strong institutions