Orasi Ilmiah Prof. Lucy Dewi Nurhajati Sasongko: Aplikasi Farmakokinetika dalam Bidang Klinis dan Sains Farmasi
Oleh Azka Madania Nuryasani - Mikrobiologi, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id – Prof. Dr. apt. Lucy Dewi Nurhajati Sasongko, M.Si., Guru Besar Sekolah Farmasi (SF) ITB menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Aplikasi Farmakokinetika dalam Bidang Klinis dan Sains Farmasi” di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Sabtu (11/7/2026).
Farmakokinetika dalam Pengembangan Obat
Farmakokinetika merupakan ilmu yang mempelajari perjalanan obat di dalam tubuh manusia, meliputi proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME). Menurut Prof. Lucy, pemahaman terhadap prinsip-prinsip farmakokinetika sangat penting untuk menentukan dosis, frekuensi pemberian, serta keamanan penggunaan obat pada berbagai kondisi pasien.
Sebagai contoh, ia menjelaskan proses distribusi obat melalui perbedaan antihistamin generasi pertama dan generasi kedua. “Antihistamin generasi pertama, seperti klorfeniramin, dapat menembus blood-brain barrier sehingga menimbulkan efek samping berupa kantuk. Sebaliknya, antihistamin generasi kedua, seperti loratadine dan fexofenadine, memiliki kemampuan yang jauh lebih kecil untuk memasuki otak karena dipengaruhi oleh protein transporter seperti P-glycoprotein. Akibatnya, efek sedasi yang ditimbulkan menjadi jauh lebih minimal”, katanya.
Prof. Lucy menjelaskan bahwa farmakokinetika tidak hanya diterapkan ketika obat telah digunakan oleh pasien, tetapi juga menjadi bagian penting dalam setiap tahapan pengembangan obat. Bahkan setelah suatu obat beredar di masyarakat, kajian farmakokinetika tetap dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan interaksi obat maupun perubahan respons pada kelompok pasien tertentu. Pada formulasi obat, ada salah satu sistem penghantaran obat secara oral osmotic, yaitu jumlah obat dan laju pelepasannya dihitung berdasarkan parameter farmakokinetika, seperti nilai clearance.
Interaksi Farmakokinetika Obat-Herbal Indonesia

Dalam bidang sains farmasi, Prof. Lucy juga menyoroti pentingnya memahami interaksi antara obat modern dengan produk herbal. “Indonesia sedang gencar mengeksplorasi bahan alam yang memiliki potensi besar dalam pengembangan fitofarmaka. Namun, penggunaan herbal secara bersamaan dengan obat konvensional sering kali dilakukan tanpa mempertimbangkan kemungkinan terjadinya interaksi,” tuturnya.
Ia memaparkan hasil penelitiannya mengenai penggunaan ekstrak kulit manggis bersama metformin pada model hewan diabetes. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemberian kedua bahan secara bersamaan dapat menurunkan paparan sistemik (systemic exposure) metformin secara signifikan, sehingga berpotensi memengaruhi efektivitas terapi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahan herbal tidak selalu bersifat aman apabila dikombinasikan dengan obat tanpa pengawasan.
Farmakokinetika Mendukung Terapi yang Lebih Personal
Di aplikasi klinis, farmakokinetika menjadi landasan bagi penerapan Therapeutic Drug Monitoring (TDM), yaitu pemantauan kadar obat di dalam tubuh untuk memastikan konsentrasi obat berada pada rentang terapi yang optimal.
Melalui penelitian terhadap antibiotik meropenem di salah satu rumah sakit di Bandung, ia menunjukkan bahwa respons setiap pasien dapat berbeda sehingga diperlukan penyesuaian dosis berdasarkan hasil pengukuran kadar obat. Menurut Prof. Lucy, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penyesuaian dosis berdasarkan karakteristik masing-masing pasien agar terapi menjadi lebih efektif sekaligus meminimalkan risiko efek samping.
Hubungan Antibiotik, Mikrobiota Usus, dan Gut-Brain Axis
Salah satu bagian yang menarik dalam orasi Prof. Lucy adalah hasil penelitiannya mengenai pengaruh penggunaan antibiotik terhadap fisiologi saluran cerna dan kesehatan mental melalui mekanisme gut-brain axis.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik secara berulang dapat mengubah waktu transit usus, pH saluran cerna, serta komposisi mikrobiota usus. Perubahan kondisi fisiologis tersebut berpengaruh terhadap penyerapan obat. Perubahan mikrobiota usus akibat penggunaan antibiotik berulang juga memengaruhi jalur komunikasi antara usus dan otak (gut-brain axis). Kondisi tersebut menyebabkan perubahan berbagai mediator biologis, yang pada akhirnya berasosiasi dengan munculnya perilaku menyerupai depresi (depression-like behavior).
Prof. Lucy mengaitkan temuan tersebut dengan fenomena meningkatnya stres pada mahasiswa. "Jangan-jangan mahasiswa sekarang stres bukan hanya karena beban kuliah, tetapi karena pola makan yang tidak baik sehingga mikrobiota saluran cernanya terganggu. Mungkin bukan hanya dikirim ke psikiater, tetapi juga perlu diberi makanan yang benar," ujar Prof Lucy.
Profil Prof. Dr. apt. Lucy Dewi Nurhajati Sasongko, M.Si.
Prof. Dr. apt. Lucy Dewi Nurhajati Sasongko, M.Si., lahir di Bandung pada 31 Juli 1965. Beliau merupakan dosen pada Kelompok Keahlian Farmasetika, Sekolah Farmasi (SF) ITB. Prof. Lucy telah menunjukkan dedikasi dalam bidang farmakokinetik hingga akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 1 Oktober 2025.
Prof. Lucy menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Taruna Bakti sebelum melanjutkan studi Sarjana Farmasi di ITB pada 1984. Ia lulus dengan predikat cum laude pada 1989 serta meraih penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan ITB. Setelah menyelesaikan pendidikan profesi apoteker sebagai lulusan terbaik, ia melanjutkan pendidikan Magister di ITB dan kemudian meraih gelar doktor dari Faculty of Pharmacy, The University of Sydney, Australia, melalui beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) pada 2003. Selepas menempuh pendidikan doktoral, Prof. Lucy menjalani penelitian pascadoktoral di Department of Pharmaceutics, University of Washington, Seattle, Amerika Serikat.
Sebelum bergabung sebagai dosen ITB, Prof. Lucy memulai karier profesional di industri farmasi sebagai registration officer dan product executive di PT Glaxo Indonesia, kemudian menjadi product manager di PT Tempo Scan Pacific. Sejak 1994, ia mengabdikan diri sebagai staf pengajar di Sekolah Farmasi ITB dan aktif mengajar pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sarjana, profesi apoteker, magister, hingga doktor.
Atas dedikasinya di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Prof. Lucy menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan bidang pengembangan institusi ITB, Satyalancana Karya Satya dari Pemerintah Republik Indonesia, penghargaan dari Ikatan Apoteker Indonesia, penghargaan “Inspiring Lecturer” Paragon Innovation Summit serta penghargaan Crowd's Favorite Lecturer dari mahasiswa Sekolah Farmasi ITB.
Selengkapnya dapat diakses di ITB Press.

.jpg)

.jpg)



