Orasi Ilmiah Prof. Dr. Acep Iwan Saidi Soroti Ideologi dan Kekuasaan di Balik Desain Ruang Belajar
Oleh Indah Marcelinawati - Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id - Prof. Dr. Acep Iwan Saidi, S.Sn., M.Sn., Guru Besar dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Ideologi dan Kekuasaan di Balik Desain Ruang Belajar Siswa Sekolah Dasar dan Menengah di Indonesia (Kajian Semiotika)”, di Aula Barat, Sabtu (13/6/2026). Orasi ini mengupas bagaimana ruang belajar tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan, tetapi juga menjadi medium yang merepresentasikan ideologi, relasi sosial, dan praktik kekuasaan yang membentuk pengalaman belajar siswa.
Prof. Acep Iwan Saidi menjelaskan bahwa kajian tersebut berangkat dari kegelisahan yang telah lama ia rasakan sejak menempuh pendidikan dasar hingga menengah. Menurutnya, desain ruang kelas yang ditemui selama bertahun-tahun cenderung seragam dan tidak banyak mengalami perubahan. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mempertanyakan mengapa ruang belajar dirancang dengan pola yang sama dan bagaimana pengaruhnya terhadap pengalaman belajar siswa.
Melalui perspektif semiotika, ia memandang ruang sebagai sistem tanda yang memiliki makna tertentu. Tata letak ruang, posisi guru dan siswa, serta pola interaksi yang terbentuk di dalam kelas tidak hanya menunjukkan fungsi praktis, tetapi juga merepresentasikan nilai, ideologi, dan relasi sosial yang bekerja di baliknya. Oleh karena itu, ruang belajar tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang netral karena setiap elemen yang ada di dalamnya berkontribusi dalam membentuk cara individu berpikir dan berinteraksi.
"Kalau saya lihat dari perspektif semiotika, setidaknya saya melihat tiga relasi di dalam ruang ini. Pertama adalah relasi objek-objek yang tetap, kedua komposisi biner antara guru dengan siswa, dan ketiga kesetaraan siswa dengan siswa," ucapnya.
Ia menyoroti desain ruang kelas konvensional yang umum digunakan di Indonesia, yakni susunan bangku yang menghadap ke depan dengan guru berada pada posisi sentral. Menurutnya, konfigurasi tersebut membentuk relasi yang menempatkan guru sebagai sumber utama pengetahuan, sementara siswa berperan sebagai penerima pengetahuan. Pola tersebut secara tidak langsung membangun hubungan yang hierarkis antara guru dan siswa serta membatasi interaksi yang lebih setara dan partisipatif.
Ia juga menjelaskan bahwa desain ruang belajar tersebut berakar pada paradigma modernisme yang menekankan keteraturan, efisiensi, dan standardisasi. Akibatnya, ruang belajar cenderung dirancang secara seragam tanpa mempertimbangkan keragaman konteks sosial, budaya, maupun kebutuhan emosional peserta didik. Menurutnya, ruang belajar memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kreativitas, dan pengalaman belajar siswa.
"Desain ruangnya itu adalah desain ruang yang modernitas. Jadi basis ideologinya adalah modernisme yang memang adalah sebuah perspektif yang melihat ruang sebagai ruang, seni sebagai seni, ilmu sebagai ilmu," ujarnya.
Ia mengemukakan bahwa desain ruang kelas dapat dipandang sebagai representasi ideologi dan kekuasaan yang hadir secara tersembunyi dalam sistem pendidikan. Ruang belajar menjadi medium yang mengatur pola interaksi, kedisiplinan, serta hubungan antara individu di dalamnya. Karena itu, desain ruang tidak hanya memengaruhi proses pembelajaran, tetapi juga turut membentuk cara pandang siswa terhadap otoritas, pengetahuan, dan lingkungan sosialnya.
“Siswa digiring masuk ke dalam ruangan untuk disatukan, tetapi setelah masuk mereka dipisahkan oleh aturan. Tidak boleh tengok kiri kanan, tidak boleh menyontek, bahkan membaca harus di dalam hati,” katanya.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa desain ruang belajar perlu menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penyusunan kebijakan pendidikan. Menurutnya, ruang belajar yang mampu memberikan kebebasan, rasa memiliki, dan keterikatan emosional kepada siswa akan lebih mendukung lahirnya individu yang kreatif, kritis, dan berkarakter. Ia juga mendorong agar perancangan ruang belajar di masa depan didasarkan pada kebutuhan peserta didik serta mempertimbangkan keragaman konteks sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

.jpg)

.jpg)




