Mahasiswa ITB Rancangan Pengembangan Migas Rendah Emisi dan Ekonomis, Raih Prestasi Kompetisi Internasional

Oleh Ilham Rezy Saputra - Teknik Perminyakan, 2022

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id – Mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (FTTM ITB), meraih gelar Champion dalam Plan of Development Competition BOREYES 2026 melalui rancangan pengembangan lapangan minyak yang produktif, ekonomis, dan rendah emisi. Gagasan tersebut menawarkan pendekatan yang dapat membantu industri menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan energi sekaligus menekan dampak lingkungan dari kegiatan produksi migas.

Tergabung dalam Tim I-Energy Pte. Ltd., para mahasiswa merancang pengembangan Dharani Field dengan mengintegrasikan teknologi peningkatan produksi, pengelolaan air terproduksi, pemanfaatan energi terbarukan, serta fasilitas yang dipersiapkan untuk penerapan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Rancangan ini menunjukkan bahwa pengembangan lapangan migas dapat tetap memberikan manfaat ekonomi dan mendukung ketahanan energi nasional dengan proses yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.

Melalui rancangan Plan of Development (POD) yang mencakup aspek reservoir, sumur, fasilitas produksi, keselamatan, lingkungan, sosial, dan keekonomian, Tim I-Energy Pte. Ltd. membuktikan bahwa prinsip keberlanjutan dapat diintegrasikan sejak tahap perencanaan pengembangan lapangan.

Tim I-Energy Pte. Ltd. beranggotakan Gabriel Febrianto Siregar, Yesaya Anju Beckham Napitupulu, Farhan Yoga Widodo, Akasia Villosa, dan Ariyandha Dzaki Falah.

Dharani Field diperkirakan memiliki sekitar 450 juta barel minyak di tempat dengan tantangan utama berupa heterogenitas reservoir karbonat Baturaja. Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mengusulkan skenario pengembangan yang mengintegrasikan gas lift, peripheral waterflood, Produced Water Reinjection (PWRI), pemanfaatan energi terbarukan, serta desain fasilitas yang dapat dikembangkan menuju penerapan CCUS.

Salah satu gagasan utama yang ditawarkan adalah penerapan 100 persen produced water reinjection. Melalui pendekatan ini, air yang dihasilkan selama proses produksi tidak dibuang ke permukaan, tetapi diolah dan diinjeksikan kembali ke bawah permukaan. Langkah tersebut dirancang untuk mengurangi risiko pencemaran sekaligus mendukung pemeliharaan tekanan reservoir.

Tim juga menargetkan tercapainya zero routine flaring pada tahun ketujuh operasi serta penggunaan energi terbarukan sebesar 25 persen melalui integrasi panel surya atau Solar Photovoltaic (PV) dan Battery Energy Storage System (BESS).

“Industri energi Indonesia masih membutuhkan migas untuk menjaga ketahanan energi. Namun, cara pengembangannya harus semakin efisien, rendah emisi, dan memperhatikan lingkungan,” ujar Gabriel.

Integrasikan Aspek Teknis, Ekonomi, dan Keberlanjutan


Dalam rancangan tersebut, tim memilih Scenario 2 sebagai skenario utama karena dinilai memberikan keseimbangan terbaik dari sisi teknis, keekonomian, keberlanjutan, dan risiko pelaksanaan. Skenario ini mencakup delapan sumur produksi, empat sumur injeksi air, penerapan gas lift dan waterflood, serta pembangunan fasilitas produksi yang siap dikembangkan untuk penerapan CCUS pada masa mendatang.

Tim juga menyiapkan opsi pengembangan lanjutan berupa CCUS-Enhanced Oil Recovery (CCUS-EOR), yakni pemanfaatan karbon dioksida untuk membantu meningkatkan perolehan minyak sekaligus membuka peluang pengurangan emisi karbon. Namun, penerapannya masih memerlukan kajian lebih lanjut mengenai ketersediaan sumber karbon dioksida, kesiapan fasilitas, keekonomian, dan sistem pemantauan.

Menurut tim, salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan mereka dalam kompetisi adalah kemampuan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Penyusunan POD tidak hanya berfokus pada karakteristik reservoir, tetapi juga mencakup drilling and completion, fasilitas produksi, Health, Safety, and Environment (HSE), Corporate Social Responsibility (CSR), Abandonment and Site Restoration (ASR), tingkat komponen dalam negeri, keekonomian, serta jadwal proyek.

“Satu hal yang paling menentukan keberhasilan tim adalah integrasi antardisiplin. Dalam pengembangan lapangan migas, tidak cukup hanya kuat di reservoir atau ekonomi. Semua aspek harus saling terhubung,” ujar Gabriel.

Dalam dokumen final, skenario yang dipilih menghasilkan Contractor Net Present Value (NPV) sebesar USD827,70 juta, Internal Rate of Return (IRR) 72 persen, dan profitability index 3,26 dengan menggunakan skema Production Sharing Contract (PSC) Gross Split. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan lapangan dengan pendekatan rendah emisi tetap dapat dirancang secara ekonomis dan kompetitif.

Tim I-Energy Pte. Ltd. berharap pencapaian ini tidak berhenti sebagai prestasi dalam kompetisi, tetapi menjadi langkah awal untuk terus berkontribusi dalam bidang teknik perminyakan, pengembangan lapangan, energi bersih, dan transisi energi.

“Kami berharap karya ini dapat menunjukkan bahwa mahasiswa Teknik Perminyakan ITB mampu merancang pengembangan lapangan yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga relevan dengan tantangan industri energi saat ini,” ujar Gabriel.

#itb #fttm itb #teknik perminyakan itb #mahasiswa itb #prestasi mahasiswa #pretasi internasional #pengembangan migas #migas rendah emisi #ketahanan energi #transisi energi #energi bersih #energi berkelanjutan #ccus #sdg 7 #energi bersih dan terjangkau #sdg 9 #industri inovasi dan infrastruktur #sdg 12 #konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab #sdg 13 #penanganan perubahan iklim