Mahasiswa ITB Gagas Sistem Rantai Pasok Berbasis AI untuk Kurangi Food Loss
Oleh Andre Otniel Panggabean - Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Tiga mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Institut Teknologi Bandung (ITB), mengembangkan gagasan sistem manajemen rantai pasok pangan terintegrasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Inovasi tersebut dirancang untuk membantu mengurangi food loss atau kehilangan pangan yang masih menjadi persoalan di Indonesia.
Tim yang terdiri atas Faza Rayhan, Annisa Rezkya Adinda, dan Fitri Amelia, mahasiswa PWK ITB angkatan 2022, merancang purwarupa aplikasi yang dapat mengintegrasikan berbagai aktor dalam rantai pasok pangan. Sistem tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas distribusi, mengurangi pangan yang hilang sebelum sampai kepada konsumen, serta mendukung pengelolaan pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Gagasan tersebut relevan bagi masyarakat karena food loss tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, tetapi juga meningkatkan pemborosan sumber daya dan memberikan dampak terhadap lingkungan. Pemanfaatan AI dalam pengelolaan rantai pasok berpotensi membantu menjaga ketersediaan pangan sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya target 12.3 mengenai pengurangan kehilangan dan pemborosan pangan.
Mengintegrasikan Aktor dalam Rantai Pasok Pangan
Menurut Annisa, ide tersebut berangkat dari keprihatinan tim terhadap tingginya tingkat kehilangan pangan di Indonesia. Mereka melihat bahwa perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu mengelola proses distribusi pangan secara lebih terukur.
“Kami merasa permasalahan food loss di Indonesia ini serius dan memberikan banyak dampak negatif, terutama dari segi ekonomi dan lingkungan. Di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, teknologi seperti AI dapat turut membantu memecahkan masalah tersebut jika dikolaborasikan dengan manusia yang memanajemennya,” ujarnya.
Melalui purwarupa aplikasi yang dibuat, berbagai aktor dalam rantai pasok pangan dapat terhubung dalam satu sistem terintegrasi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung pertukaran informasi dan pengambilan keputusan sehingga proses distribusi pangan berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.
Tim juga memandang persoalan sistem pangan sebagai isu lintas sektor yang berkaitan erat dengan perencanaan wilayah dan pembangunan berkelanjutan. Menurut Faza, perubahan dalam sistem pangan perlu dilihat tidak hanya dari aspek produksi, tetapi juga dari pengelolaan distribusi serta hubungan antaraktor di dalamnya.
“Saat ini kita memang sedang berada pada era transformasi sistem pangan nasional. Karena itu, kami mencoba melihat permasalahan yang sedang hangat dan menawarkan solusi yang relevan,” katanya.
Kolaborasi Lintas Bidang dari Perspektif Perencanaan Wilayah
Meskipun isu yang diangkat banyak bersinggungan dengan bidang pangan dan peternakan, latar belakang keilmuan PWK tidak menjadi hambatan bagi tim. Mereka justru memanfaatkan perspektif perencanaan wilayah untuk memahami keterkaitan antara distribusi pangan, penggunaan teknologi, pembangunan berkelanjutan, dan kebutuhan masyarakat.
Proses pengembangan gagasan berlangsung selama tiga hingga empat bulan. Pada saat yang sama, seluruh anggota tim tengah menyelesaikan skripsi sehingga mereka harus membagi waktu antara kegiatan akademik, diskusi, dan penyusunan esai.
Perbedaan lokasi anggota tim juga membuat koordinasi lebih banyak dilakukan secara daring. Tantangan tersebut diatasi melalui pembagian tugas dan pengaturan waktu diskusi yang disesuaikan dengan kesibukan masing-masing anggota.
Pengalaman tersebut turut memperkuat kemampuan tim dalam melakukan riset, menyampaikan gagasan, dan bekerja sama. Bagi Faza, presentasi langsung di hadapan dewan juri menjadi pengalaman yang berkesan karena merupakan kali pertama dirinya mengikuti kompetisi esai. Sementara itu, Annisa memperoleh berbagai wawasan baru dari presentasi dan inovasi yang dibawakan peserta lain.
Raih Juara pada Kompetisi Nasional Seari 9.0
Gagasan tersebut membawa tim PWK ITB meraih Juara 3 pada subtema pangan dalam Scientific Essay Competition Seari 9.0 yang diselenggarakan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, pada 1 Mei 2026. Kompetisi tersebut diikuti mahasiswa dari 44 perguruan tinggi di Indonesia
Dalam tim tersebut, Faza Rayhan berperan sebagai ketua, sedangkan Annisa Rezkya Adinda dan Fitri Amelia menjadi anggota. Seari merupakan kegiatan tahunan yang pada 2026 memasuki penyelenggaraan ke-9.
Annisa mengatakan, capaian tersebut menjadi hasil yang membanggakan setelah tim menjalani proses penyusunan karya selama beberapa bulan.
“Pasti bersyukur dan lega karena lomba ini sudah kami kerjakan cukup lama. Setelah semua proses selesai dan ternyata mendapat juara 3, tentunya kami sangat bersyukur,” ujarnya.
Faza berpesan agar mahasiswa tidak membatasi diri hanya pada bidang yang secara langsung berkaitan dengan program studinya. Menurutnya, kemauan belajar dan keberanian mencoba dapat membuka peluang untuk berkontribusi dalam berbagai bidang.
“Jurusan bukanlah penghalang. Semua hal bisa dipelajari asalkan kita punya keinginan dan mau memperjuangkannya,” tuturnya.

.jpg)

.jpg)




