Mahasiswa FTSL ITB Wakili Indonesia di Panggung PBB, Suarakan Pentingnya Kesehatan Mental Melalui Ekosistem Sepak Bola
Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021
Editor Muhammad Efriza Pandia
NEW YORK, itb.ac.id – M. Elyas Aryo Saputro, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga menjabat sebagai Presiden Persatuan Sepak Bola ITB (PS ITB), menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Ia terpilih mewakili pemuda Indonesia untuk berbicara di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, dengan mengangkat gagasan mengenai pentingnya kesejahteraan mental atlet muda dalam ekosistem sepak bola kampus.
Menjawab Tantangan dengan Tetap Fokus pada Proses

Kesempatan tampil di forum internasional tersebut tidak terlepas dari pengalaman Elyas memimpin PS ITB dalam berbagai kompetisi, termasuk UniLeague. Salah satu momen yang sempat menjadi perhatian publik adalah ketika PS ITB mengalami kekalahan dengan skor 0-12. Hasil pertandingan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan berbagai komentar, termasuk candaan warganet yang menyebut, "kita balas di LinkedIn."
Bagi Elyas, pengalaman tersebut justru menjadi pembelajaran berharga bagi tim.
"Kekalahan itu tentu menjadi bahan evaluasi bagi kami. Namun yang lebih penting, tim tidak menyerah dan tidak berhenti sampai di sana. Kami tetap melanjutkan kompetisi dan menghadapi setiap pertandingan dengan semangat yang sama," ujarnya.
Menanggapi komentar yang beredar di media sosial, Elyas mengaku tidak terlalu memikirkannya. Menurutnya, fokus utama dirinya dan seluruh anggota tim tetap berada di lapangan, yakni terus berkembang dan berupaya memberikan performa terbaik dalam setiap pertandingan.
Gagasan Football for Mental Health Mendapat Apresiasi

Semangat pantang menyerah tersebut kemudian menjadi salah satu landasan pemikiran yang dibawa Elyas dalam forum di PBB. Di sela-sela rangkaian kegiatan, ia berkesempatan berdiskusi dengan para peserta dari berbagai negara mengenai peran olahraga dalam mendukung kesejahteraan generasi muda.
Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah ketika berdiskusi langsung dengan Felipe Paullier, Head of the UN Youth Office.
"Beliau sangat mengapresiasi konsep Football for Mental Health karena dinilai sejalan dengan tujuan UN Youth dalam mendorong kesejahteraan dan pemberdayaan pemuda melalui sepak bola," ungkap Elyas.
Mendorong Budaya Tim yang Lebih Terbuka

Dok. Instagram @ps_itb
Sepulang dari New York, Elyas membawa perspektif baru yang ingin diterapkan di lingkungan PS ITB. Menurutnya, kesehatan mental dan kekompakan tim dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.
"Satu perubahan yang ingin saya dorong adalah bagaimana caranya kita bisa memberikan ruang yang lebih besar bagi para pemain untuk menyampaikan pendapat, baik saat latihan maupun dalam setiap pengambilan keputusan di internal PS ITB," tuturnya.
Melalui pendekatan tersebut, ia berharap budaya tim dapat semakin inklusif sehingga setiap pemain merasa didengar, dihargai, dan memiliki rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat terhadap tim.
Kolaborasi Menjadi Kunci Perjalanan
Elyas menegaskan bahwa kesempatan berbicara di forum PBB merupakan hasil dari dukungan banyak pihak. Ia mengapresiasi kontribusi rekan-rekan setim, pembina, pelatih, serta jajaran pengurus PS ITB yang telah mendampinginya dalam memahami berbagai tantangan di dunia sepak bola kampus. Selain itu, diskusi bersama delegasi dari berbagai negara juga turut memperkaya perspektif dan gagasan yang ia sampaikan di forum internasional tersebut.
Ke depan, Elyas melihat ekosistem sepak bola mahasiswa memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Ia juga menyambut baik rencana penyelenggara UniLeague yang akan memperluas kompetisi ke berbagai kota di Indonesia.
"Dari situ saya punya harapan, semakin banyak mahasiswa, khususnya dari ITB, yang dapat terlibat sehingga sepak bola di ITB bisa berkembang lebih luas. Saya berharap sepak bola tidak hanya menjadi wadah untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertumbuh dan mengembangkan diri," tutupnya.
Reporter: Ahza Asadel Hananda Putra (Teknik Pangan, 2021)

.jpg)

.jpg)



