ITB Perkuat Kolaborasi Petani Karawang untuk Wujudkan Pertanian Padi Cerdas Iklim
Oleh --- -
Editor Muhammad Efriza Pandia
Diskusi antara petani Banyu Sakti II, tim ITB, tim Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, petugas penyuluh lapangan, dengan Dr. Katharine Legun dari Wageningen University, Belanda
KARAWANG — Institut Teknologi Bandung (ITB) mendorong penguatan kolaborasi antarpetani sebagai fondasi pengembangan pertanian padi yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Membangun Teknologi Kolektif: Penguatan Kapasitas Kelembagaan Petani Padi untuk Pengembangan Bersama Teknologi Pertanian Cerdas Iklim, ITB mempertemukan petani, penyuluh pertanian, pemerintah, perusahaan rintisan teknologi, hingga akademisi internasional untuk membangun inovasi pertanian secara bersama.
Kegiatan yang berlangsung secara bertahap sejak Februari hingga Juli 2026 tersebut dilaksanakan bersama Kelompok Tani Banyu Asih III serta Kelompok Tani Banyu Sakti I dan II di Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Program ini juga melibatkan PT Tani Bersama Estate (TBE), petugas penyuluh pertanian lapangan, serta Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.
Kabupaten Karawang sebagai salah satu sentra produksi padi nasional menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, penurunan kualitas tanah, penggunaan input kimia yang intensif, hingga ketidakpastian ketersediaan air. Beragam persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh petani secara individual karena pengelolaan air, hama, gulma, maupun kondisi lingkungan saling berkaitan antarlahan.
Ketua tim kegiatan, sekaligus dosen dari Kelompok Keahlian (KK) Manajemen Sumber Daya Hayati, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Dr. Angga Dwiartama, menegaskan bahwa pengembangan teknologi pertanian tidak cukup hanya menghadirkan inovasi baru di lapangan, tetapi juga harus dibangun melalui proses kolaboratif bersama para petani.
"Teknologi tidak akan menghasilkan perubahan dengan sendirinya. Teknologi perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat, dikembangkan bersama petani, dan didukung oleh kelembagaan yang memungkinkan mereka mengambil keputusan secara kolektif," ujarnya.
Membangun Kerja Sama Dimulai dari Perbaikan Irigasi
.jpg)
Melalui rangkaian kunjungan lapangan, pemetaan sosial, dan diskusi bersama petani, tim ITB mengidentifikasi kondisi saluran irigasi sebagai salah satu persoalan utama yang perlu segera ditangani. Perbaikan dan pembersihan saluran irigasi kemudian dipilih sebagai langkah awal untuk membangun kembali budaya gotong royong di kalangan petani.
Dalam proses tersebut, para petani terlibat sejak tahap identifikasi lokasi prioritas, pembagian tugas, hingga pelaksanaan kerja bakti. Selain memperlancar aliran air, kegiatan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan pertanian membutuhkan koordinasi yang melampaui batas kepemilikan lahan.
Wakil Ketua Kelompok Tani Banyu Asih III, Sudrajat, mengatakan bahwa musyawarah menjadi bagian penting dalam pengelolaan irigasi.
"Setiap kali ada permasalahan air, kami duduk bersama dan bermusyawarah untuk menentukan jadwal penggunaan air serta waktu pelaksanaan kerja bakti," tuturnya.
Peran Strategis Penyuluh dalam Transformasi Pertanian

Petani bersama tim ITB, penyuluh pertanian, dan mitra kegiatan membersihkan dan memperbaiki saluran irigasi di Kabupaten Karawang sebagai bagian dari penguatan tindakan kolektif petani.
Program ini juga menempatkan petugas penyuluh pertanian lapangan sebagai penghubung utama antara petani dengan berbagai pemangku kepentingan. Selain memberikan pendampingan teknis, penyuluh berperan memperkuat komunikasi antara kelompok tani, pemerintah, akademisi, dan penyedia teknologi.
Menurut tim ITB, keberadaan penyuluh menjadi semakin penting seiring berkembangnya teknologi pertanian berbasis data, seperti pemanfaatan kecerdasan artifisial, drone, sensor, dan sistem rekomendasi digital. Teknologi tersebut tetap memerlukan pendamping yang mampu menerjemahkan informasi teknis sesuai dengan kondisi di lapangan sekaligus menghubungkannya dengan pengalaman dan pengetahuan petani.
Belajar Bersama Akademisi Internasional

Diskusi antara petani Banyu Asih III, tim ITB, petugas penyuluh lapangan, dengan Dr. Mark Vicol dari Wageningen University, Belanda
Kegiatan ini turut menghadirkan dua akademisi dari Wageningen University & Research, Belanda, yang berdiskusi bersama para petani mengenai pertanian skala kecil, kelembagaan petani, perubahan agraria, serta hubungan antara teknologi dan kehidupan masyarakat pedesaan.
Diskusi berlangsung sebagai proses pembelajaran dua arah. Para petani tidak diposisikan sebagai penerima pengetahuan semata, melainkan sebagai mitra yang memiliki pengalaman, inovasi lokal, jejaring, dan pemahaman mendalam mengenai lingkungan pertaniannya.
"Pengabdian kepada masyarakat merupakan proses belajar dua arah. Sebagai akademisi, kami tidak boleh melihat petani sebagai kertas kosong. Mereka memiliki pengetahuan, pengalaman, daya tawar, dan inovasi yang perlu menjadi bagian dari pengembangan teknologi," kata Angga.
Interaksi tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi petani untuk memperluas jejaring akademik internasional, sekaligus memberikan pengalaman langsung bagi akademisi dalam memahami penerapan teknologi pada kondisi pertanian yang nyata.
Teknologi dan Kelembagaan Berjalan Beriringan
Sebagai salah satu mitra kegiatan, PT Tani Bersama Estate mengembangkan pendekatan pertanian presisi dan regeneratif melalui pemanfaatan mikroorganisme lokal, pemantauan tanaman menggunakan drone dan kecerdasan artifisial, dukungan pembiayaan, serta jaminan akses pasar.
Namun demikian, penerapan teknologi modern pada lahan pertanian yang relatif kecil dan tersebar tetap membutuhkan koordinasi antarpetani. Data yang diperoleh melalui drone maupun sensor hanya akan memberikan manfaat optimal apabila diikuti dengan pengambilan keputusan secara kolektif oleh para petani.

Kontribusi ITB untuk perbaikan saluran irigasi di Kelurahan Plawad, Kabupaten Karawang
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, ITB menunjukkan bahwa transformasi pertanian tidak selalu diawali dengan penerapan teknologi yang paling canggih. Penguatan kelembagaan petani, kepercayaan antarsesama, dan semangat gotong royong menjadi fondasi penting untuk mengembangkan inovasi pertanian yang berkelanjutan serta adaptif terhadap tantangan perubahan iklim di masa depan.

.jpg)

.jpg)




