ITB Luncurkan ICE Microcredential, Buka Akses Pembelajaran yang Relevan dengan Perkembangan Industri
Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Pendidikan Profesional Berkelanjutan (Ditpro ITB) meluncurkan platform ICE Microcredential ITB di Auditorium IPTEK Campus Center (CC) Timur, ITB Kampus Ganesha, Jumat (24/7/2026). Program ini menjadi langkah ITB dalam menjawab perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin menekankan keterampilan spesifik dan terverifikasi, selain ijazah pendidikan formal.
Microcredential ITB merupakan program sertifikasi praktis berskala ringkas yang berfokus pada kesiapan menghadapi dunia kerja. Program ini memungkinkan peserta mempelajari kompetensi tertentu, memperoleh sertifikat resmi dari ITB, serta mengumpulkan satuan kredit semester (SKS) yang dapat diajukan untuk dikonversi dalam pendidikan akademik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
ICE Microcredential ITB membuka akses pembelajaran bagi mahasiswa ITB dan perguruan tinggi lain, alumni, profesional, praktisi industri, guru, serta dosen yang ingin meningkatkan atau memperbarui kompetensinya secara fleksibel. Materi pembelajaran dirancang agar praktis dan relevan dengan kebutuhan industri sehingga peserta dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam lingkungan kerja.
Program tersebut dikembangkan sebagai respons terhadap kebutuhan upskilling dan reskilling yang terus meningkat.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., mengatakan, program ini bukan untuk sebuah kursus singkat, tetapi sebagai sebuah sistem untuk meningkatkan kompetensi. Tren rekrutmen tenaga kerja secara bertahap bergerak menuju skill-based hiring. Dalam proses tersebut, perusahaan membutuhkan bukti kompetensi yang jelas, bukan hanya gelar sebagai persyaratan awal memasuki dunia kerja.
“Ke depan, keterampilan yang terverifikasi menjadi semakin penting. Bukti kompetensi digital dalam bentuk digital badges mulai menjadi standar yang dibutuhkan industri,” katanya.
Empat Pilar Mikrokredensial ITB
ICE Microcredential ITB dikembangkan berdasarkan empat pilar utama, yakni:
1. Relevansi dengan perkembangan dan kebutuhan industri;
2. Fleksibilitas, sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan waktu, kebutuhan, dan kondisi peserta;
3. Pengakuan yang kredibel, dengan standar serta jaminan mutu akademik ITB;
4. Dapat diakumulasikan sehingga kredit yang diperoleh dari program microcredential dapat dikumpulkan sebagai bagian dari perjalanan pembelajaran peserta, baik untuk mendukung pendidikan bergelar maupun pembelajaran sepanjang hayat, sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.
Ia berharap program tersebut dapat memberikan manfaat bagi ITB, lulusan perguruan tinggi, alumni, dunia industri, dan masyarakat, serta turut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Tiga Keunggulan Utama Program
ICE Microcredential ITB juga menawarkan tiga keunggulan utama bagi peserta.
Pertama, sertifikat kompetensi, yakni bukti keahlian resmi dan terverifikasi dari ITB.
Kedua, konversi SKS. Nilai dan kredit pembelajaran yang diperoleh dapat dikumpulkan atau ditabung untuk diajukan sebagai bagian dari pendidikan akademik apabila peserta melanjutkan studi pada program yang relevan di ITB. Proses pengakuan tersebut dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dan ketentuan akademik masing-masing program studi.
Ketiga, kesiapan kerja. Materi disusun secara praktis berdasarkan kebutuhan dunia kerja sehingga kompetensi yang dipelajari dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan, pengembangan karier, ataupun peningkatan produktivitas di lingkungan industri.
Pembelajaran Modular, Fleksibel, dan Terintegrasi

Asisten Direktur Pelaksana Program Ditpro ITB, Dr. Dina Dellyana, S.Farm., M.A.B., menjelaskan bahwa ICE Microcredential dikembangkan menggunakan pendekatan market-pull, yaitu dengan mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan dunia kerja.
“Ditpro bergerak dengan pendekatan market-pull. Kita melihat kebutuhan pasar: masyarakat ingin belajar hal spesifik, mendapatkan sertifikat yang diakui, dan memiliki SKS terakumulasi tanpa harus berkomitmen pada kuliah panjang bertahun-tahun,” ujarnya.
Program diselenggarakan secara modular mulai dari unit pembelajaran berbobot satu SKS. Setelah menyelesaikan pembelajaran dan asesmen, peserta memperoleh sertifikat serta digital badge resmi yang terverifikasi oleh ITB dan berlaku hingga lima tahun.
Puluhan Program
.jpg)
ICE Microcredential ITB saat ini melibatkan 10 fakultas dan sekolah dengan lebih dari 50 program atau kursus. Program-program tersebut dikelompokkan dalam sejumlah bidang, yakni rekayasa dan industri; teknologi informasi dan bisnis; sains dan teknologi dasar; hingga arsitektur, tata ruang, dan perencanaan.
Adapun kompetensi yang dikembangkan mencakup teknologi dan kecerdasan artifisial, bisnis rintisan, keberlanjutan, isu lingkungan, machine learning, kemampuan manajerial dan kepemimpinan, kewirausahaan, serta pemenuhan standar hijau yang semakin dibutuhkan industri.
Lebih dari 100 Pendaftar Sebelum Peluncuran

Sebelum peluncuran dilaksanakan, lebih dari 100 orang dari beragam latar belakang telah mendaftarkan diri mengikuti program ICE Microcredential ITB. Pendaftar berasal dari kalangan mahasiswa internal, profesional, praktisi yang telah bekerja, hingga guru dan dosen.
Melalui ICE Microcredential, ITB terus berkomitmen dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif, kredibel, dan relevan dengan perkembangan dunia kerja. Program ini diharapkan memperkuat budaya pembelajaran sepanjang hayat sekaligus memperluas kontribusi ITB dalam meningkatkan kompetensi masyarakat dan daya saing sumber daya manusia Indonesia.
Informasi mengenai berbagai program dan pendaftaran ICE Microcredential ITB dapat diakses melalui laman ice-microcredentials.itb.ac.id.

.jpg)

.jpg)


