ITB Kembangkan Solusi Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan bagi Masyarakat Desa Datah, Bali
Oleh Indah Marcelinawati - Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
KARANGASEM, itb.ac.id – Tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan solusi penyediaan air bersih bagi masyarakat Desa Datah, Kabupaten Karangasem, Bali, melalui kajian geologi dan geofisika serta penerapan sistem pemanenan air hujan. Tim telah memetakan potensi air bawah permukaan dan membangun delapan cubang toren yang melengkapi dua unit dari program sebelumnya sehingga kini terdapat sepuluh unit penampungan air hujan yang dimanfaatkan warga.
Program tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat Desa Datah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber air bersih. Lokasi desa di lereng timur Gunung Agung didominasi batuan vulkanik yang sulit menyimpan air tanah. Akibatnya, masyarakat sangat bergantung pada air hujan yang ditampung melalui embung dan fasilitas penampungan sederhana.
Melalui infrastruktur penampungan air dan edukasi pengelolaan sumber daya air, program ini meningkatkan kapasitas warga dalam memenuhi kebutuhan air, terutama dalam jangka pendek. Kajian ilmiah yang dilakukan ITB juga menjadi dasar untuk merancang solusi jangka panjang yang lebih sesuai dengan kondisi alam Desa Datah. Upaya ini penting karena akses air bersih berkaitan langsung dengan kesehatan, kemandirian, dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan musim serta keterbatasan sumber daya air.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Desa Binaan 3T DPMK–Yayasan LAPI ITB Tahun 2025–2026. Program dipimpin oleh Dr. I Gusti Bagus Eddy Sucipta, S.T., M.T., dari Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB.
Tim pelaksana terdiri atas dosen dan mahasiswa lintas program studi, yakni Arif Susanto, S.T., M.T., Keisha Prillia Qayyima, S.T., Zahratunnisa, S.T., M.T., dan Melina Ramadhanti dari Teknik Geologi FITB ITB, serta Prof. Dr.rer.nat. Ir. Wahyudi Widiyatmoko Parnadi, M.S. dan Evi Fuji Anti dari Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB.
Memetakan Potensi Air hingga Kedalaman 250 Meter
Melalui kolaborasi lintas disiplin, tim memadukan pemetaan geologi permukaan dengan survei geofisika menggunakan metode geolistrik. Metode tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi bawah permukaan hingga kedalaman sekitar 250 meter.
Kegiatan diawali dengan pemetaan geologi permukaan pada Juni 2025 untuk mengidentifikasi persebaran batuan, sumber air, dan fasilitas pendukung yang telah dimiliki masyarakat. Survei geolistrik kemudian dilakukan pada Juli 2025 di tiga lokasi prioritas, yaitu kawasan Pura Penataran Agung Kedampal, Embung Datah 2, dan Karangsari.
Hasil survei tersebut diverifikasi melalui kegiatan pemeriksaan lapangan atau ground checking yang dilaksanakan secara bertahap pada Februari dan Juni 2026. Rekomendasi yang dihasilkan disusun berdasarkan pemetaan geologi, survei geofisika, dan interpretasi ilmiah yang dilakukan secara langsung di lapangan.
Pendekatan tersebut memungkinkan tim merancang solusi yang menyesuaikan karakteristik geologi dan kebutuhan masyarakat Desa Datah secara lebih tepat.

Pemanenan Air Hujan sebagai Solusi Jangka Pendek
Selain menghasilkan peta potensi air tanah, tim memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kondisi hidrogeologi Desa Datah dan berbagai alternatif penyediaan air bersih yang dapat diterapkan secara mandiri.
Berdasarkan hasil kajian, sistem pemanenan air hujan atau rainwater harvesting direkomendasikan sebagai solusi yang paling memungkinkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat dalam jangka pendek.
Sebagai implementasi rekomendasi tersebut, tim membangun delapan cubang toren yang terhubung dengan atap rumah warga. Pembangunan tersebut melengkapi dua unit yang telah didirikan pada program sebelumnya sehingga total terdapat sepuluh unit penampungan air hujan yang kini dimanfaatkan masyarakat Desa Datah.

Pembangunan infrastruktur tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas penyimpanan air hujan, tetapi juga memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sumber daya air berdasarkan kondisi lingkungan setempat. Dengan demikian, masyarakat memperoleh fasilitas fisik sekaligus pengetahuan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Mendorong Penyediaan Sumber Air Jangka Panjang
Sebagai langkah lanjutan, tim mengidentifikasi peluang pemanfaatan sumber mata air dari luar Desa Datah melalui sistem distribusi gravitasi. Salah satu alternatif yang direkomendasikan adalah optimalisasi kembali Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Telagawaja.
Namun, penerapan solusi tersebut membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, karena cakupan infrastruktur dan wilayah pelayanannya lebih luas.
Mahasiswa ITB yang terlibat dalam program, Keisha Prillia Qayyima, berharap kolaborasi antara ITB dan berbagai pihak dapat membuka peluang penyediaan sumber air baku yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Desa Datah.
“Kami berharap, dengan dukungan ITB dan kolaborasi bersama berbagai pihak, dapat dibuka jalan untuk memperoleh sumber air baku yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Datah. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih mandiri dan tidak hanya bergantung pada persediaan air hujan maupun air permukaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sumber air yang saat ini dimanfaatkan masyarakat terutama berasal dari embung yang menampung air hujan dalam waktu panjang. Berdasarkan pengamatan tim, air di embung tersebut memiliki karakteristik pH yang cenderung basa dan terasa lengket, meskipun nilai total dissolved solids (TDS) atau jumlah zat padat terlarutnya sangat rendah.
Melalui kajian berkelanjutan dan kolaborasi lintas pihak, program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mewujudkan sistem penyediaan air yang lebih andal, sesuai dengan kondisi lingkungan, dan mampu memperkuat kemandirian masyarakat Desa Datah.

.jpg)

.jpg)




