ITB Jadi Tuan Rumah Seminar dan Monev RKI PRN EQUITY 2026, Perkuat Kolaborasi Riset Nasional
Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung menjadi tuan rumah Seminar dan Monitoring dan Evaluasi Laporan Akhir Riset Kolaborasi Indonesia Prioritas Riset Nasional atau RKI PRN EQUITY 2026 (22-24 Juli 2026) di Aula Barat, Aula Timur, serta sejumlah ruang kegiatan di Kampus ITB Ganesha. Seminar dan monev ini mempertemukan pimpinan PTNBH, pengelola lembaga riset, peneliti, reviewer, serta perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan LPDP.
Ketua Pelaksana sekaligus Deputi Direktur Bidang Riset dan Diseminasi ITB, Nur Ahmadi, S.T., M.Eng., Ph.D., menjelaskan bahwa RKI PRN EQUITY bertujuan mengintegrasikan kepakaran antar-PTNBH untuk memperkuat ekosistem riset nasional dan meningkatkan daya saing penelitian Indonesia di tingkat global.
“RKI PRN EQUITY ingin mengintegrasikan kepakaran dari 23 PTNBH untuk memperkuat ekosistem riset nasional. Selain itu, program ini ingin memperkuat jejaring kepakaran dan mendukung pencapaian prioritas riset nasional,” ujarnya.
Program ini melibatkan mitra non-PTNBH serta mendorong kolaborasi lintas perguruan tinggi dan disiplin. Menurutnya, kolaborasi antara bidang teknik, kedokteran, sains, dan ilmu sosial diharapkan memperluas jejaring riset serta menghasilkan publikasi bereputasi internasional.
Monev sebagai Instrumen Pengendalian Mutu

Sebanyak 365 proposal dalam empat skema dievaluasi oleh 76 reviewer dari delapan bidang ilmu. Nur Ahmadi menegaskan bahwa seminar dan monev laporan akhir menjadi tahap puncak program sekaligus instrumen pengendalian mutu, bukan sekadar proses administratif.
“Monev ini diharapkan dapat menilai ketercapaian target penelitian, mengevaluasi luaran, dan memberikan masukan dari para reviewer,” katanya.
Masukan reviewer membantu meningkatkan kualitas hasil dan luaran riset, sekaligus membuka ruang diskusi serta peluang kolaborasi baru.
“Kolaborasi adalah fondasi lahirnya inovasi. Sesuai dengan nama Riset Kolaborasi Indonesia, harapannya kita lebih banyak berkolaborasi dibandingkan berkompetisi sehingga lahir kolaborasi yang erat dan inovasi yang kuat,” ujarnya.
Memperkuat Dampak dan Keberlanjutan Riset

Ketua Asosiasi LPPM-DRPM PTNBH, Prof. Dr. R. Benny Riyanto, S.H., M.Hum., CN., mengatakan, monev menjadi ruang refleksi untuk menilai kualitas, dampak, dan keberlanjutan hasil kolaborasi riset.
“Kegiatan monitoring dan evaluasi laporan akhir bukan semata-mata proses administrasi, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk mengukur sejauh mana kolaborasi yang telah dibangun mampu menghasilkan luaran riset yang berkualitas, berdampak, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Evaluasi membantu perguruan tinggi mengenali praktik baik, kendala, dan strategi penguatan RKI. Program EQUITY juga mendorong peningkatan mutu serta pengakuan internasional perguruan tinggi melalui riset yang relevan bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Membangun Kolaborasi Jangka Panjang

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., menyampaikan Riset Kolaborasi Indonesia menunjukkan semangat perguruan tinggi untuk tumbuh bersama. Penggabungan kepakaran, sumber daya, dan fasilitas dari berbagai institusi dapat membentuk ekosistem penelitian yang lebih kuat, produktif, dan relevan terhadap kebutuhan nasional. Dukungan program EQUITY juga mengarahkan penelitian pada prioritas riset nasional. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melahirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, industri, dan pemerintah.
Prof. Lavi menegaskan bahwa monev harus menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas penelitian. Reviewer memiliki peran dalam memberikan penilaian objektif dan masukan konstruktif kepada para peneliti.
“Monitoring dan evaluasi bukan hanya menjadi instrumen akuntabilitas terhadap pendanaan yang telah diberikan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan dalam membangun budaya riset yang unggul,” katanya.
Ia juga mendorong agar program RKI tidak hanya berorientasi pada jumlah publikasi. Kolaborasi perlu dirancang untuk membangun hubungan kelembagaan dan jejaring penelitian dalam jangka panjang. Prof. Lavi membagikan pengalamannya saat terlibat dalam program ASEAN University Network/Southeast Asia Engineering Education Development Network atau AUN/SEED-Net. Program tersebut menggabungkan penelitian, pendidikan magister dan doktor, serta supervisi internasional. Hubungan yang terbentuk kemudian berkembang menjadi kolaborasi akademik lintas negara yang bertahan selama bertahun-tahun.
“Kolaborasinya menjadi kolaborasi jangka panjang. Jadi, bukan hanya menghasilkan publikasi, kemudian pada akhir tahun menghitung jumlah artikel yang telah terbit,” tuturnya.
Ia mengusulkan agar penelitian RKI dapat dikaitkan dengan pendidikan mahasiswa magister dan doktor. Pendanaan penelitian dapat dipadukan dengan program beasiswa sehingga kolaborasi turut memperkuat regenerasi peneliti dan meningkatkan kapasitas akademik PTNBH.
LPDP Dorong Kolaborasi Riset dan Pendanaan
Kepala Divisi Kerja Sama dan Layanan Riset LPDP, Dhani Setyawan, Ph.D., memaparkan peran LPDP dalam mendukung pengembangan pendidikan dan ekosistem penelitian nasional. Ia menjelaskan bahwa LPDP merupakan badan layanan umum di bawah Kementerian Keuangan yang mendapat mandat untuk mengelola empat jenis dana abadi. Dana tersebut meliputi Dana Abadi Pendidikan, Dana Abadi Penelitian, Dana Abadi Kebudayaan, dan Dana Abadi Perguruan Tinggi.
Dana Abadi Perguruan Tinggi menjadi salah satu sumber pendanaan program EQUITY dan RKI bagi PTNBH. Imbal hasil pengelolaan dana abadi digunakan untuk mendukung berbagai program beasiswa, penelitian, kebudayaan, dan pengembangan perguruan tinggi.
Dhani mengatakan bahwa RKI telah berkembang dari kolaborasi yang awalnya melibatkan empat PTNBH menjadi program yang diikuti 23 PTNBH pada periode 2025–2026. Perluasan tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap kerja sama penelitian lintas institusi. LPDP juga mendorong perguruan tinggi dan peneliti untuk mengembangkan kolaborasi pendanaan. Sumber pendanaan penelitian tidak hanya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, tetapi juga dapat diperkuat melalui kerja sama dengan lembaga filantropi, perusahaan, dan mitra internasional.
Menurut Dhani, penelitian lintas disiplin dan lintas universitas berpeluang menghasilkan dampak akademik yang lebih besar. Publikasi berkualitas, jaringan penelitian internasional, serta keterlibatan peneliti global dapat mendukung peningkatan reputasi perguruan tinggi Indonesia.
Pendanaan riset diharapkan menghasilkan luaran berkualitas, memperkuat jejaring akademik, dan meningkatkan dampak perguruan tinggi. Setelah sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan monev laporan akhir serta pertemuan koordinasi pimpinan LPPM-DRPM PTNBH di Gedung CRCS. Melalui seminar dan monev ini, ITB bersama perguruan tinggi peserta, kementerian, dan LPDP berupaya memperkuat ekosistem riset yang kolaboratif, akuntabel, dan berkelanjutan. Forum tersebut diharapkan menghasilkan evaluasi objektif, rekomendasi konstruktif, serta peluang kerja sama baru yang memberikan dampak lebih luas bagi pembangunan Indonesia.

.jpg)

.jpg)


