Edukasi STEM untuk Teknologi Desalinasi: Upaya ITB Bangun Solusi Air Bersih Berbasis Komunitas di Muara Gembong, Bekasi
Oleh Qoulan Tsaqila - Teknik Sipil 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BEKASI, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) membekali siswa di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, dengan pengetahuan dan keterampilan mengolah air asin atau payau menjadi air tawar menggunakan alat desalinasi sederhana. Edukasi Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) tersebut diarahkan untuk mendorong lahirnya solusi air bersih yang dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat pesisir.
Program tersebut ditujukan kepada siswa MTs Nurul Ihsan dan SMAN 1 Muara Gembong yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan akses air bersih akibat tingginya salinitas, intrusi air laut ke daratan, serta pencemaran sumber air oleh aliran sungai. Melalui praktik langsung, siswa mempelajari proses penguapan dan pengembunan untuk memisahkan garam serta zat terlarut dari air.
Edukasi itu diharapkan meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai pengelolaan air sekaligus menumbuhkan kemampuan masyarakat dalam merancang solusi berdasarkan kondisi lokal. Upaya tersebut penting karena masyarakat pesisir tidak cukup hanya menjadi penerima bantuan, tetapi perlu terlibat sebagai pelaku utama dalam mengatasi persoalan air bersih secara berkelanjutan.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui Program Pengabdian Masyarakat ITB Skema Bottom-Up 2026 yang dipimpin dosen Kelompok Keahlian Teknologi Pengelolaan Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Mayrina Firdayati, S.Si., M.T.
Program tersebut merupakan kelanjutan dari gerakan “Ngaji Ekologi” yang sebelumnya memetakan persoalan lingkungan dan sanitasi di wilayah pesisir Muara Gembong. Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, persoalan ketersediaan air bersih menjadi salah satu tantangan yang memerlukan intervensi teknologi sekaligus penguatan kapasitas masyarakat.
Kolaborasi ITB, ASU, dan Labtek Apung
Program edukasi melibatkan dosen dan mahasiswa ITB, mahasiswa Arizona State University (ASU), serta komunitas Labtek Apung. Komunitas tersebut bergerak dalam pengembangan teknologi sederhana berbasis masyarakat, terutama untuk menangani persoalan air dan lingkungan di kawasan pesisir.
Kolaborasi dengan ASU dilaksanakan melalui program Inbound Student Exchange EQUITY 2025–2026 FTSL ITB yang mengangkat tema “Water-Energy-Food Nexus for Sustainable Development”.
Sebelum kegiatan lapangan, tim merancang alat desalinasi dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan, kemudahan perakitan, keamanan, serta kesederhanaan pengoperasian. Dari proses tersebut, tim mengembangkan desalinator sederhana berbahan dasar botol baja nirkarat dengan sistem pendinginan menggunakan air.

Alat itu bekerja menggunakan prinsip distilasi sederhana yang mengadopsi sebagian proses dalam siklus hidrologi, yaitu penguapan dan pengembunan. Air asin atau payau dipanaskan hingga berubah menjadi uap, sedangkan kandungan garam dan zat terlarut tertinggal di dalam wadah pemanas.
Uap air kemudian dialirkan menuju kondensor berupa kumparan pipa tembaga yang direndam dalam wadah berisi air dingin. Setelah mengalami penurunan suhu, uap kembali berubah menjadi cairan dan ditampung sebagai air hasil desalinasi.
Sebelum dan setelah proses tersebut, kadar zat terlarut dalam air diuji menggunakan total dissolved solids meter atau TDS meter. Pengujian dilakukan untuk memperlihatkan perbedaan kadar zat terlarut pada air sebelum dan setelah desalinasi.
.jpg)
Siswa Membawa Air Payau dari Rumah
Sebelum mengikuti praktik, siswa menerima materi mengenai pengelolaan air dari dosen Kelompok Keahlian Teknik Sumber Daya Air FTSL ITB, Dr.Eng. Ir. Arno Adi Kuntoro, S.T., M.T..
Ia menjelaskan pentingnya pengelolaan air untuk memenuhi kebutuhan domestik, pangan, dan energi. Siswa juga diperkenalkan dengan tantangan pengelolaan air yang disebut sebagai persoalan “3T”, yaitu terlalu banyak air, terlalu sedikit air, dan terlalu kotor.
Selain itu, siswa mempelajari sistem pengelolaan air pesisir dalam skala yang lebih luas, seperti bendung, waduk, kolam retensi, dan konservasi sumber daya air.
Dalam sesi praktik, siswa dibagi ke dalam kelompok beranggotakan tujuh hingga delapan orang dan didampingi mahasiswa serta guru. Mahasiswa ITB dan ASU memperagakan tahapan pengoperasian alat, mulai dari menyiapkan perangkat, memasukkan air, memanaskan wadah, mendinginkan uap, hingga menampung air hasil kondensasi.
Siswa membawa sampel air asin atau payau dari rumah masing-masing untuk digunakan dalam percobaan. Dengan demikian, materi yang dipelajari berkaitan langsung dengan kondisi air yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan STEM digunakan untuk mendorong siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga bertanya, mencoba, mengamati, dan memahami proses ilmiah di balik teknologi desalinasi. Melalui metode tersebut, tim ingin mengembangkan rasa ingin tahu siswa menjadi kemampuan untuk menciptakan inovasi.
Mahasiswa ASU yang terlibat dalam kegiatan, Jasmine, mengatakan program pengabdian kepada masyarakat kerap berlangsung dalam jangka waktu terbatas dan bergantung pada ketersediaan pendanaan. Oleh karena itu, penguatan kemampuan masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga keberlanjutan program.
“Harapannya, pendekatan STEM mampu membangun kemandirian dan inovasi masyarakat lokal agar tidak terus bergantung pada pihak luar,” ujarnya.
Mayrina mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam program tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Harapannya, mahasiswa bisa lebih peka terhadap isu di sekitarnya dan mampu merumuskan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Menurut dia, penyelesaian masalah air bersih memerlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, sekolah, dan masyarakat lokal. Kolaborasi tersebut diharapkan mendorong terbentuknya community-led solution, yaitu penyelesaian persoalan yang dirancang dan dijalankan dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Kegiatan Edukasi STEM untuk Teknologi Desalinasi sebagai Solusi Air Bersih tersebut diselenggarakan di MTs Nurul Ihsan dan SMAN 1 Muara Gembong, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, pada Sabtu, 16 Mei 2026.

.jpg)

.jpg)




