Dari Wakatobi ke ITB, Zahra Kirana Bersama Para Mahasiswa Baru Mengawali Perjalanan Meraih Mimpi
Oleh Anggun Nindita -
Editor Muhammad Efriza Pandia
Dari kiri ke kanan: Taufik Hafiz, Zahra Kirana, Dimas Faris, dan Riefan Bintang Herlino. Keempatnya adalah mahasiswa baru ITB TA 2026/2027.
JATINANGOR, itb.ac.id – Ribuan kilometer memisahkan Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, jarak tersebut tidak menyurutkan langkah Zahra Kirana untuk menggapai cita-citanya. Bagi mahasiswa baru Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu, diterima di ITB bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga harapan bagi keluarga, sekolah, dan daerah asalnya.
Zahra berhasil diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) setelah menjaga konsistensi nilai selama di bangku SMA. Pencapaian tersebut menjadi semakin istimewa karena ia merupakan anggota keluarga pertama yang berhasil menempuh pendidikan di ITB. Tak hanya itu, ia juga menjadi alumni pertama dari daerahnya yang diterima di kampus tersebut.
"Rasanya sangat senang. Orang tua menjadi orang pertama yang saya beri kabar, kemudian sekolah. Saya juga menjadi alumni pertama dari daerah saya yang lolos ke ITB," ujarnya saat mengikuti Pra-Penyambutan Mahasiswa Baru ITB Tahun 2026 di ITB Kampus Jatinangor, Senin (27/7/2026).

Zahra Kirana, mahasiswa baru FMIPA ITB yang berasal dari Wakatobi, Sulteng
Selama mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi, dia mengaku memanfaatkan waktu belajar di sekolah dengan sebaik-baiknya. Ia terbiasa menyimak penjelasan guru, kemudian meninjau kembali materi setelah pulang sekolah. Menjelang seleksi masuk perguruan tinggi, ia juga mengikuti bimbingan belajar untuk memperkuat pemahamannya.
Baginya, keberhasilan menembus ITB bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk mewujudkan cita-cita yang lebih besar. Zahra ingin berkontribusi dalam pengembangan ekosistem riset Indonesia, khususnya di bidang astronomi. Di saat yang sama, ia berharap dapat menginspirasi generasi muda di Wakatobi agar semakin banyak yang berani melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Di daerah saya masih banyak yang belum melanjutkan kuliah. Saya ingin menunjukkan bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan untuk membangun masa depan bangsa," tuturnya.
Mengikuti Pra-Penyambutan Mahasiswa Baru juga menjadi pengalaman pertamanya mengenal lingkungan ITB secara langsung. Ia merasa materi yang disampaikan membantunya memahami kehidupan kampus sekaligus mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan akademik. Ke depannya, dia ingin bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang pendidikan agar dapat mengembangkan kemampuan berorganisasi sekaligus berbagi manfaat kepada masyarakat.
Mimpi yang Datang dari Berbagai Penjuru Indonesia
Semangat yang dibawa Zahra juga hadir dalam diri mahasiswa baru ITB lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Taufik Hafiz, mahasiswa baru Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) asal Kabupaten Jayapura, Papua, juga diterima melalui jalur SNBP. Ia mengaku sempat tidak menyangka dapat lolos karena belum pernah ada alumni dari sekolahnya yang diterima di ITB melalui jalur tersebut. Meski telah mempersiapkan diri untuk menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), kabar kelulusan melalui SNBP menjadi kejutan yang membahagiakan.
Taufik berharap dapat memaksimalkan ilmu komputasi yang dipelajarinya di ITB, terutama di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI). Selama berkuliah, ia juga ingin bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa yang dapat mengembangkan kemampuan di bidang pemrograman, robotika, maupun teknologi wahana nirawak.
Dari Sumatera Selatan, Dimas Faris Athallah, mahasiswa baru FMIPA asal Palembang, memiliki perjalanan yang tak kalah menarik. Selain menjaga prestasi akademik sejak kelas X, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga lomba penelitian tingkat nasional. Ketika mengetahui dirinya diterima melalui jalur SNBP, ia langsung membagikan kabar tersebut kepada keluarga.
Ketertarikan Dimas terhadap dunia penelitian membuatnya bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri setelah menyelesaikan pendidikan di ITB. Ia berharap dapat memperdalam ilmu-ilmu dasar dalam lingkungan riset yang lebih maju sebelum kembali menerapkannya bagi masyarakat.
Sementara itu, perjalanan Riefan Bintang Herlino, mahasiswa baru Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) asal Samarinda, Kalimantan Timur, diwarnai kisah bangkit setelah gagal pada jalur SNBP. Ia terus belajar dan mengevaluasi proses belajarnya hingga akhirnya berhasil diterima melalui jalur SNBT.
Momen kelulusan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi Riefan. Setelah berhasil membuka laman hasil seleksi yang sempat sulit diakses, ia langsung menemui sang ibu dan memeluknya sebagai ungkapan syukur. Kelak, ia berharap dapat kembali ke Kalimantan Timur untuk berkontribusi dalam pengembangan potensi kebumian di daerahnya.
Mengawali Langkah, Menyiapkan Kontribusi

Keempat perwakilan mahasiswa baru ITB bersama Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., dan Direktur Persiapan Bersama ITB, Prof. Dr. Fatimah Arofiati Noor, S.Si., M.Si.
Meski datang dari latar belakang dan daerah yang berbeda, Zahra, Taufik, Dimas, dan Riefan memiliki tujuan yang sama. Pra-Penyambutan Mahasiswa Baru ITB Tahun 2026 menjadi langkah awal bagi mereka untuk mengenal kehidupan kampus, membangun jejaring, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia akademik.
Mereka juga membawa mimpi yang serupa, yakni memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di ITB untuk kembali memberikan manfaat bagi masyarakat. Bagi Zahra, mimpi itu bahkan telah dimulai sejak ia meninggalkan Wakatobi. Ia berharap langkah kecilnya hari ini dapat membuka jalan bagi semakin banyak anak muda di daerah asalnya untuk berani bermimpi besar dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dari Wakatobi, Jayapura, Palembang, hingga Samarinda, kisah mereka menunjukkan bahwa mimpi tidak mengenal batas geografis. Dengan semangat belajar dan tekad untuk berkarya, mereka kini memulai babak baru di ITB, membawa harapan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, daerah asal, dan Indonesia.

.jpg)

.jpg)




