Berangkat dari Isu Limbah Tekstil, Tim SITH ITB Raih Medali Emas di National Essay EFC 2026

Oleh Aura Salsabila Alviona - Mahasiswa Bioteknologi, 2025

Editor Muhammad Efriza Pandia

Tim TriPETase (dari kiri: Sandi, Shinta, dan Ridho) saat menerima Medali Emas pada ajang Edutalk Fair Competition 2026.

SEMARANG, itb.ac.id – Tim TriPETase dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB berhasil meraih medali emas pada kategori Energi dan Lingkungan dalam ajang National Essay Edutalk Fair Competition (EFC) 2026. Tim yang beranggotakan Muhammad Ridho Ardiansyah, Andian Sandi Pamungkas, dan Shinta Puspita Rachmawati dari Program Studi Teknologi Pascapanen tersebut menjadi yang terbaik pada kompetisi yang diselenggarakan oleh bersama DBS FEB Universitas Diponegoro di Semarang, 30 Mei 2026.

Berangkat dari Persoalan Limbah Tekstil di Bandung

Prestasi tersebut berawal dari gagasan ilmiah tim dalam mengoptimalkan pengolahan limbah PET (polyethylene terephthalate) yang dihasilkan industri tekstil, khususnya dari aktivitas thrifting. Ide ini lahir dari keprihatinan mereka terhadap meningkatnya tren fast fashion dan konsumsi pakaian bekas yang turut menghasilkan timbunan limbah tekstil, seperti yang banyak dijumpai di kawasan Pasar Cimol Gedebage, Bandung.

Menurut Sandi, metode pengolahan limbah tekstil yang tersedia saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.

"Pengolahan secara mekanik maupun kimiawi biasanya membutuhkan energi yang besar dan penggunaan bahan kimia yang cukup banyak. Selain itu, kualitas serat hasil daur ulangnya sering kali menurun," jelasnya.

Sebagai solusi, Tim TriPETase mengusulkan konsep bioindustri cerdas berbasis enzymatic recycling (daur ulang enzimatik). Mereka memanfaatkan varian enzim mutan IsPETase W159H/F229Y untuk memutus rantai polimer tekstil menjadi monomer terephthalic acid (TPA) dan ethylene glycol (EG) dengan tingkat kemurnian yang tinggi.

Melalui inovasi tersebut, tim berharap dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan rekayasa hayati sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.

Menjawab Tantangan Melalui Kolaborasi
Di balik keberhasilan tersebut, tim menghadapi sejumlah tantangan selama proses penyusunan gagasan. Selain harus membagi waktu di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dan penyelesaian tugas akhir, mereka juga perlu mempelajari bidang yang relatif baru, seperti perancangan sistem industri skala besar dan optimasi parameter bioreaktor, yang belum dibahas secara mendalam dalam kurikulum utama Program Studi Teknologi Pascapanen.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, setiap anggota tim menjalankan peran yang berbeda sesuai keahlian masing-masing. Sandi berfokus pada transformasi sel dan optimasi bioreaktor, sedangkan Shinta dan Ridho menangani tahapan pre-treatment serta pemurnian hasil. Selain itu, mereka memperkuat konsep melalui kajian literatur secara intensif dan simulasi komputer (in silico).


Foto bersama para pemenang Edutalk Fair Competition 2026.
Keberhasilan Tim TriPETase juga didukung oleh berbagai pihak. Mewakili tim, Sandi menyampaikan apresiasi kepada Kak Arvin (Oseanografi 2020) dan Kak Ismet (Bioteknologi 2024) atas bimbingan yang diberikan selama proses penyusunan konsep.

Sandi berharap capaian tersebut dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan ide dan berpartisipasi dalam berbagai kompetisi.

"Kesempatan untuk menuangkan ide di luar kampus sebenarnya sangat luas. Teruslah berinovasi karena langkah kecil tersebut bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar," pungkasnya.

Reporter: Aura Salsabila Alviona (Bioteknologi, 2025)

#prestasi #prestasi mahasiswa #limbah tekstil #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg12 #responsible consumption and production