Andis Destrian Irianto Raih Gelar S2 ITB di Usia 22 Tahun, Teliti Transformasi Ekonomi Indonesia

Oleh Andre Otniel Panggabean - Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Andis Destrian Irianto, wisudawan Magister Studi Pembangunan ITB yang menyelesaikan studi pada usia 22 tahun 4 bulan. (Dok. pribadi)

BANDUNG, itb.ac.id - Andis Destrian Irianto, S.T., M.S.P., menyelesaikan pendidikan Magister Studi Pembangunan (MSP) ITB pada usia 22 tahun 4 bulan. Capaian tersebut merupakan hasil dari perencanaan pendidikan yang telah ia bangun sejak masa SMA dan konsistensi yang ia jaga selama menjalani studi.

Perjalanan Andis menuju jenjang magister dimulai saat ia mengikuti Program Integrasi Sarjana-Magister (PISM), yang kini dikenal sebagai Program Penyatuan Sarjana-Magister (PPSM), ketika masih berkuliah di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ITB. Melalui program tersebut, ia dapat mengambil mata kuliah magister sejak semester lima dan mempersiapkan studi lanjut lebih awal. Dukungan dari para dosen pembimbing serta kesempatan memperoleh pendanaan Program EQUITY turut membantu kelancaran studinya.

Pada tesisnya, Andis mengangkat penelitian berjudul “Peran Sektor Pertanian, Industri Pengolahan, dan Jasa dalam Dinamika Ekonomi Indonesia: Pendekatan Model Input-Output”.

Penelitian tersebut mengkaji kontribusi tiga sektor utama ekonomi terhadap perubahan struktur perekonomian Indonesia. Melalui kajian tersebut, ia berharap dapat memberikan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat integrasi antarsektor dan mendukung transformasi ekonomi yang lebih inklusif.

Menurut Andis, keberhasilannya menyelesaikan studi di usia relatif muda tidak terlepas dari kebiasaan belajar yang konsisten. Ia mulai mempersiapkan topik penelitian sejak menyelesaikan skripsi dan membiasakan diri mengerjakan tesis sedikit demi sedikit setiap hari. Dalam belajar, ia mengombinasikan metode visual dan auditori melalui buku, jurnal, serta video pembelajaran. Ia juga lebih memilih belajar pada pagi hari ketika kondisi pikiran masih segar.

Bagi Andis, tantangan terbesar selama kuliah bukanlah materi perkuliahan, melainkan menjaga disiplin dan konsistensi. Untuk mengatasinya, ia membangun rutinitas belajar yang terstruktur dan memanfaatkan Google Kalender untuk mengatur jadwal kegiatan. Prinsip yang selalu ia pegang adalah bahwa disiplin memang berat, tetapi ketidakdisiplinan akan jauh lebih berat di kemudian hari.

Di luar akademik, Andis aktif terlibat dalam berbagai kegiatan riset sebagai asisten peneliti dan sempat bekerja secara kontrak di bidang konsultan. Untuk menjaga keseimbangan hidup, ia menikmati aktivitas sederhana seperti berjalan kaki ke kampus, bermain gim, dan istirahat yang cukup.

Andis mengaku bahwa kedua orang tuanya merupakan sosok yang paling mendukung perjalanan studinya. Sementara itu, tokoh yang paling menginspirasinya adalah B. J. Habibie karena kecerdasan, dedikasi, dan kontribusinya bagi bangsa. Setelah lulus, ia mengaku akan merindukan atmosfer akademik ITB yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan mencari solusi berbasis data.

Ia menyampaikan pesan bagi mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi. Andis mengajak untuk terus belajar dan menjaga konsistensi dalam berproses. “Hasil yang besar sering kali bukan berasal dari usaha yang luar biasa dalam satu waktu, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Jangan takut gagal dan manfaatkan setiap peluang yang ada untuk terus berkembang,” ujarnya.

#prestasi mahasiswa #wisudawan itb #wisudawan termuda #sappk